Laporan Kuliah Kerja Lapangan

Posted: April 4, 2016 in Kuliah Kerja Lapangan

LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL)

PADA KOPERASI PETERNAKAN BANDUNG SELATAN PANGALENGAN

(KPBS PANGALENGAN)

UNJ

Disusun Oleh:

Muhammad Arief Fauzi

8335123535

S1 Akuntansi Reguler B 2012

 

 

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2014

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan hasil Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini dengan baik. Dalam laporan ini penulis akan membahas mengenai latar belakang dan tujuan KKL yang telah dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober 2014 hingga 24 Oktober 2014 di Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pengalengan, Bandung. Selain itu penulis juga akan membahas mengenai faktor-faktor yang menyebabkan penurunan aset dan laba usaha terhadap kinerja usaha Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pengalengan.

Laporan ini dibuat dengan tujuan untuk menyelesaikan tugas Kuliah Kerja Lapangan (KKL). Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Marsellisa Nindito,Se,Akt.,M.Sc.selaku dosen pembimbing KKL penulis.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada laporan ini. Oleh karena itu penulis sangat berterima kasih apabila pembaca mau memberikan kritik dan saran yang membangun. Kritik pembaca sangat bermanfaat bagi penulis dalam penyusunan laporan selanjutnya. Semoga laporan ini dapat memberikan maanfaat bagi para pembaca. Terima kasih.

 

Jakarta, 10 November 2014

 

Penulis

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang KKL

Di era globalisasi saat ini, persaingan yang ada dalam dunia kerja semakin ketat. Dengan demikian, pengembangan kemampuan yang dimiliki oleh para pencari kerja harus dilakukan agar dapat bersaing di dunia kerja, apalagi untuk mahasiswa yang setelah mencapai kelulusan akan memasuki dunia kerja. Pengembangan kemampuan ini dapat dilakukan secara teoritis maupun langsung terjun ke lapangan. Salah satu kegiatan yang dapat membantu mahasiswa dalam pengembangan kemampuan secara langsung adalah kuliah kerja lapangan (KKL).

Di Fakultas Ekonomi Univeritas Negeri Jakarta, kuliah kerja lapangan merupakan salah satu syarat kelulusan yang harus dijalankan oleh setiap mahasiswa yang mengambil studi ekonomi khususnya jurusan Akuntansi. Dengan adanya kuliah kerja lapangan, semakin mendorong mahasiswa untuk mengetahui kondisi pengelolaan keuangan yang ada dalam dunia kerja dan mengetahui pengaplikasian ilmu yang telah didapat selama perkuliahan dalam dunia kerja. KKL tahun 2014 ini Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta  melakukan kunjungan ke Koperasi Peternakan Bandung Selatan Pengalengan.

Pemilihan tempat kunjungan ke Koperasi Peternakan Bandung Selatan Pengalengan tentu memiliki alasan yang berkaitan erat dengan kebutuhan informasi kami sebagai mahasiswa. Koperasi Peternakan Bandung Selatan Pengalengan telah dikenal di Indonesia lebih dari 40 tahun. Koperasi Peternakan Bandung Selatan Pengalengan dalam proses produksinya menggunakan mesin-mesin yang selalu terkontrol untuk menunjang proses produksinya serta memiliki manajemen yang baik dalam proses produksi. Hal ini berarti Koperasi Peternakan Bandung Selatan Pengalengan juga menerapkan sistem akuntansi yang baik dalam produksi dan manajemen sehingga dapat menunjang keuangan perusahaan.

 1.2 Maksud dan Tujuan KKL

  1. Merupakan salah satu bentuk kegiatan wajib yang dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya dan diikuti oleh seluruh mahasiswa jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta
  2. Syarat kelulusan mahasiswa di Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Jakarta
  3. Diperlukannya suatu kegiatan untuk lebih memperdalam pemahaman tentang praktek akuntansi dalam dunia kerja yang sebenarnya
  4. Merupakan kerjasama antara Mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta dengan perusahaan yang bersangkutan

1.3 Kegunaan KKL

  1. Melalui kegiatan KKL ini diharapkan dapat memberikan pengalaman kepada mahasiswa jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi mengenai dunia kerja
  2. Dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai sistem akuntansi yang diterapkan di perusahaan-perusahaan di Indonesia
  3. Memperkenalkan mahasiswa jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta kepada perusahaan terkait
  4. Membantu mahasiwa untuk mendapatkan gambaran mengenai cara kerja yang baik dan disiplin, sehingga kelak mahasiswa dapat menjadi pekerja yang handal dalam bidangnya serta mampu untuk menembus ketatnya persaingan di dunia kerja

1.4 Waktu dan Tempat KKL

Kegiatan Kuliah Kerja Lapangan Mahasiswa Jurusan Akuntansi angkatan 2012 Fakultas Ekonomi  Universitas  Negeri Jakarta ini akan diselenggarakan:

Nama Perusahaan        : Koperasi Peternak Bandung Selatan Pengalengan

Tanggal pelaksanaan   : 22  Oktober 2014

Waktu Pelaksanaan     : 10.00 – 15.00 WIB

1.5 Perumusan Masalah

  1. Bagaimana kondisi dan perkembangan KPBS Pangalengan saat ini?
  2. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan penurunan aktiva dan laba kotor KPBS Pangalengan di tahun 2013?
  3. Bagaimana pengaruh penurunan laba kotor terhadap kinerja usaha KPBS Pangalengan?

1.6 Tinjauan Pustaka

A. Koperasi

Koperasi menurut undang-undang Perkoperasian No.25 tahun 1992 menyatakan bahwa “koperasi”adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi yang berlandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi dan sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas azas kekeluargaan’.

Mengingat bidang usaha yang berasaskan kekeluargaan dan sesuai dengan budaya bangsa Indonesia terutama lapisan masyarakat yang menjunjung kebersamaan maka dalam usaha bersama, koperasi adalah merupakan wadah yang tepat karena selain aspek ekonomis sebagai watak usahanya dan aspek sosial sebagai watak kebersamaan.

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan secara umum koperasi adalah badan usaha yang mengorganisir pemanfaatan dam pendayagunaan sumber ekonomi para anggotanya atas dasar prinsip-prinsip koperasi dan kaidah usaha ekonomi untuk meningkatkan taraf hidup anggota pada khususnya dan masyarakat daerah kerja pada umumnya, dengan demikian koperasi merupakan gerakan ekonomi rakyat dan soko guru perekonomian nasional. (PSA No 27, 2000)

B. Gambaran Umum Usaha Sapi Perah di Indonesia

Sapi perah adalah ternak dan bibit sapi yang dipelihara dengan tujuan utama untuk menghasilkan susu. Ternak dihitung berdasarkan satuan unit ternak, unit ternak adalah satuan ternak yang setara dengan seekor sapi perah berdasarkan umur dan berat badan (Widodo, 1984).

Mubyarto (1989) menyatakan usaha peternakan di Indonesia dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :

  1. Peternakan rakyat dengan ciri – ciri cara pemeliharaanya tradisional, keterampilannya sederhana, kualitas dan kuantitas bibit lokal yang digunakan terbatas.
  2. Peternak rakyat dengan ciri – ciri cara pemeliharaan semi komersial, keterampilan cukup, menggunakaan bibit unggul, obat – obatan serta pakan penguat yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan keluarga petani.
  3. Peternak komersial dengan ciri memiliki modal sarana produksi berteknologi sedikit modern yang bertujuan mengejar keuntungan.

Usaha peternakan sapi perah dan segi usahanya digolongkan dalam dua tipe usaha, yaitu usaha peternakan rakyat dan perusahaan peternakan. Peternakan rakyat merupakan peternakan yang dilakukan oleh petani sebagai usaha sampingan sedangkan perusahaan peternakan merupakan suatu bentuk pemeliharaan sapi secara komersial dimana semua korbanan yang berasal dari keluarga diperhitungkan sebagai biaya produksi (Pulungan, Pambudi dan Wardani, 1989). Usaha peternakan sapi perah untuk tujuan komersial mempunyai ciri – ciri produksi utamanya susu dengan kepemilikan 10 ekor atau lebih sapi laktasi dewasa atau memiliki jumlah keseluruhan 20 ekor atau lebih sapi perah campuran.

C. Aset

Aset merupakan semua kekayaan yang dimiliki oleh seseorang atau perusahaan baik berwujud maupun tak berwujud yang berharga atau bernilai yang akan mendatangkan manfaat bagi seseorang atau perusahaan tersebut. Definisi aset dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang berlaku di Indonesia disebutkan bahwa:

“Aset adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh perusahaan.”

Aset dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, seperti aset berwujud dan tidak berwujud, aset tetap dan tidak tetap. Secara umum klasifikasi aset pada neraca dikelompokkan menjadi aset lancar (current assets) dan aset tidak lancar (non current assets) (Kieso:2007).

Aset lancar (current assets) merupakan aset yang berupa kas dan aset lainnya yang dapat diharapkan akan dapat dikonversi menjadi kas, atau dikonsumsi dalam satu tahun atau dalam satu siklus operasi, tergantung mana yang paling lama. Aset yang termasuk aset lancar seperti kas, persediaan, investasi jangka pendek, piutang, beban dibayar di muka, dan lain sebagainya.

Aset tidak lancar (noncurrent assets) merupakan aset yang tidak mudah untuk dikonversi menjadi kas atau tidak diharapkan untuk dapat menjadi kas dalam jangka waktu satu tahun atau satu siklus produksi. Aset yang termasuk aset tidak lancar seperti investasi jangka panjang, aset tetap, aset tak berwujud (intangible assets) dan aset lain-lain.

D. Penerimaan

Penerimaan adalah nilai uang yang diperoleh produsen dari hasil penjualan output (Wisaptiningsih dan Haryono, 1993). Budiono (1992) menyatakan bahwa yang dimaksud revenue atau penerimaan adalah penerimaan produsen dari hasil penjualan outputnya. Siregar (1990) menyatakan bahwa penerimaan dari usaha sapi perah terdiri dari penjualan sapi yang tidak produktif, penjualan anak sapi yang tidak digunakan sebagai peremajaan, penjualan pupuk kandang dan sumber penerimaan terbesar adalah dari hasil penjualan susu. Besar kecilnya penerimaan usaha sapi akan sangat tergantung pada jumlah susu yang diproduksi, jumlah sapi laktasi dan produksi susu per ekor per hari dari sapi laktasi. Penerimaan yang diterima peternak pada suatu daerah dengan daerah lain berbeda karena dipengaruhi oleh kemampuan dan ketampilan individu, kondisi lingkungan yang bervariasi, fluktuasi harga produk dan skala usaha (Hopkins dan Murray, 1984).

E. Pendapatan

Pendapatan perusahaan merupakan penerimaan yang diperoleh setelah dikurangi dengan seluruh biaya yang dikeluarkan selama proses produksi. Pendapatan suatu produk terdiri dari perbedaan antara nilai output dan nilai input dimana nilai output adalah hasil yang dicapai oleh suatu usaha bilamana produksinya dijual dan nilai input merupakan biaya – biaya yang harus dikeluarkan saat proses produksi (Winardi, 1996).

Soekartawi (1993) menyatakan bahwa keuntungan merupakan selisih antara penerimaan total dengan biaya – biaya dimana biaya tersebut adalah biaya tetap dan tidak tetap. Keuntungan yang diperoleh dari suatu usaha akan semakin besar bila selisih antara nilai penerimaan dan nilai biaya semakin besar.

Soekartawi (1986) menyatakan bahwa keuntungan atau pendapatan merupakan selisih dari penerimaan tunai usaha dan pengeluaran tunai usaha yang merupakan ukuran kemampuan usaha untuk menghasilkan uang tunai. Untung rugi usaha ternak sapi perah akan diketahui apabila biaya pokok untuk menghasilkan per liter susu dapat dihitung secara tepat (Anonymous, 1995).

F. Kinerja Keuangan

Menurut Martono (2002;52) kinerja keuangan suatu koperasi atau badan usaha lain sangat bermanfaat bagi berbagai pihak (stakeholders), seperti investor, kreditur, analis, konsultan keuangan, pialang, pemerintah, dan pihak manajemen sendiri. Laporan keuangan yang berupa neraca dan laporan laba-rugi dari suatu koperasi atau badan usaha lain, apabila disusun secara baik dan akurat dapat memberikan gambaran keadaan yang nyata mengenai hasil atau prestasi yang telah dicapai oleh suatu koperasi atau badan usaha lain selama kurun waktu tertentu. Keadaan inilah yang akan digunakan untuk menilai kinerja suatu perusahaan atau koperasi.

Menurut Mulyadi (1997;419) penilaian kinerja adalah penentuan secara periodik efektivitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi, dan karyawannya berdasarkan sasaran, standar, dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Penilaian kinerja secara umum dapat diartikan sebagai penilaian/ukuran terhadap efektivitas dan efisiensi masing-masing individu atau organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan/organisasi.

 

BAB II

TINJAUAN UMUM OBJEK KUNJUNGAN

 2.1 Sejarah Perusahaan

Sejak zaman penjajahan Belanda di Pangalengan terdapat beberapa peternakan diantaranya, De Friensche Terp, Almanak, Van Der Els dan Big Man. Untuk pemasaran hasil produksinya dilakukan oleh Bandungche Melk Center (BMC). Pada masa pendudukan Jepang perusahaan itu dihancurkan dan sapinya dipelihara oleh penduduk sekitar sebagai usaha keluarga. Para bulan November 1949 petani membentuk koperasi dengan nama Gabungan Petani Peternak Sapi Indonesia Pangalengan (GAPPSIP).

Pada tahun 1961, GAPPSIP tidak mampu menghadapi labilnya perekonomian Indonesia, sehingga tataniaga persusuan sebagian besar diambil alih oleh kolektor (tengkulak). Dengan situasi dan kondisi tersebut, tahun 1963 GAPPSIP tidak mampu melakukan kegiatannya sebagai koperasi. Beberapa tahun kemudian yaitu pada Tanggal 22 Maret 1969 didirikanlah koperasi yang diberi nama KOPERASI PETERNAKAN BANDUNG SELATAN disingkat KPBS Pangalengan. Akhirnya Tanggal 1 April 1969 KPBS Pangalengan secara resmi telah ber-Badan Hukum, dimana Tanggal 1 April 1969 ditetapkan sebagai Hari Jadi KPBS Pangalengan. Tahun 1969 s/d 1979, tantangan:

  1. Penerimaan susu oleh Industri Pengolahan Susu (IPS)pada hari Kerja.
  2. Permintaan dari Pabrik Susu adalah susu telah diproses dengan pendinginan.
  3. Pemasaran susu ke konsumen langsung sulit
  4. Tingkat kerusakan susu di koperasi dan di peternak cukup tinggi.

Rapat Anggota Tahunan 1976 dan 1977 memutuskan untuk mendirikan Milk Treatment. Kemitraan dengan PT. Ultra Jaya membangun Milk Treatment (MT) dengan jangka waktu pembayaran 5 tahun dengan angsuran saham anggota sebesar Rp. 25 / liter. Tanggal 1 Januari 1979 dimulai pembangunan dan diresmikan tanggal 16 Juli 1979 oleh Menteri Muda Urusan Koperasi. Juli 1983 angsuran dapat dilunasi. Manfaat MT:

  1. Produksi susu dapat diserap setiap hari walaupun IPS hanya menerima susu pada hari kerja.
  2. Kerusakan susu dapat ditekan baik di tingkat koperasi maupun di tingkat peternak.
  3. Meningkatnya Pelayanan dan Usaha dalam bentuk investasi untuk mempercepatkesejahteraan anggota
  4. Tahun 1980 – 1983 KPBS dapat membantu penerimaan susu dari Koperasi / KUD susu di Jawa Barat. Tahun 1988 pemerintah memberikan bantuan kredit sapi perah dari New Zealand, Australia dan Amerika. Kredit sapi tersebut yang direncanakan 7 tahun dapat dilunasi 5 tahun.

Dalam rangka peningkatan mutu genetik dan skala kepemilikan tahun 1994 mendatangkan sapi dari New Zealand secara mandiri sebanyak 2.400 ekor dara bunting dan 1 ekor pejantan unggul. Tahun 1997 merintis pemasaran ke konsumen langsung berupa susu pasteurisasi dalam kemasan “Cup dan Bantal” dengan merk “KPBS Pangalengan”.

Visi

Menjadi koperasi yang amaliah, modern, sehat organisasi, sehat usaha dan sehat mental serta unggul di tingkat regional & nasional.

Misi

  1. Taat dan patuh terhadap Pancasila, UUD 1945, Undang-Undang Perkoperasian serta Peraturan Pelaksanaannya dan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku, serta melaksanakan amanah keputusan Rapat Anggota.
  2. Memotivasi Anggota secara mandiri untuk meningkatkan harkat derajat sendiri, sekaligus mengangkat citra Perkoperasian.
  3. Meningkatkan kopetensi sumber daya koperasi.
  4. Melaksanakan Tata Kelola Operasional dengan baik, efektif & efisien.
  5. Menjadi laboratorium koperasi persusuan.
  6. Mengimplementasikan inovasi, ilmu pengetahuan, teknologi tepat guna yang ramah lingkungan.

2.2 Struktur Organisasi

1

Gambar 1. Struktur Organisasi KPBS

2.3 Kegiatan Umum Perusahaan

Dalam pengoperasiannya, KPBS menerapkan konsep agribisnis dan agroindustri. Konsep ini terbagi dalam beberapa tahap, yakni pra budidaya, proses budidaya dan pemasaran hasil budidaya. Tahapan-tahapan dalam proses produksi di KPBS adalah sebagai berikut:

1. Pra-Budidaya merupakan pelayanan dan usaha koperasi dan atau kerjasama dengan pihak ketiga, meliputi:

  • Penyediaan bibit
  • Penyediaan pakan ternak
  • Penyediaan peralatan
  • Penyediaan obat-obatan

2. Proses-Budidaya merupakan usaha anggota dan koperasi, meliputi:

  • Manajemen Koperasi
  • Manajemen beternak sapi perah
  • Penyetoran susu ke TPK terdekat
  • Pelaporan sapi sakit, berahi, kelahiran, mutasi dsb.
  • Penampungan susu
  • Angkutan susu
  • Pengolahan susu

3. Pemasaran hasil budidaya merupakan usaha koperasi atau kerjasama dengan pihak ketiga, meliputi:

  • Pemasaran ke Industri Pengolahan Susu (PT. Frisian Flag Indonesia & PT. Ultrajaya)
  • Pemasaran non-IPS (Industri rumahan, distributor, dan lain-lain)
  • Angkutan

4. Angkutan Penunjang Usaha merupakan pelayanan dan usaha koperasi atau kerjasama dengan pihak ketiga, meliputi:

  • Pendidikan dan Latihan
  • Penyuluhan dan Pendampingan
  • Pelayanan dan Usaha Kesehatan Anggota dan ternak
  • Pelayanan dan Usaha kebutuhan anggota
  • Bank Perkreditan Rakyat
  • Pariwisata dan sebagainya.

2.4 Penghargaan yang Diraih Sejak Berdiri Sampai Dengan Sekarang

Sepanjang perjalanannya, KPBS Pangalengan telah meraih beberapa penghargaan diantaranya:

2

Tabel 1. Tabel Penghargaan KPBS

BAB III

PELAKSANAAN KULIAH KERJA LAPANGAN

 

3.1 Deskripsi Kasus

Berdasarkan data yang penulis peroleh, populasi sapi di KPBS Pangalengan mengalami penurunan yang cukup signifikan pada tahun 2013. Pada tahun 2012 populasi sapi KPBS Pangalengan berjumlah 16.871 ekor, tetapi pada tahun 2013 menurun sebesar 20,4 % menjadi 13.428 ekor. Hal ini akan berpengaruh terhadap aktiva, jumlah produksi susu rata-rata dan laba kotor yang diperoleh KPBS Pangalengan.

Pada tahun 2013 jumlah aset, produksi susu rata-rata dan laba kotor KPBS Pangalengan masing-masing mengalami penurunan. Pada tahun 2012 jumlah aset yang dimiliki KPBS Pangalengan sebesar Rp 78.561.741.085, namun pada tahun 2013 terjadi penurunan menjadi Rp 77.084.261.572. Sementara itu jumlah produksi susu rata-rata yang bisa dihasilkan pada tahun 2013 hanya sebesar 94.424 kg, padahal tahun 2012 KPBS Pangalengan mampu memproduksi sebesar 120.974 kg. Hal yang sama juga terjadi pada laba kotor yang diperoleh oleh KPBS Pangalengan. Laba kotor pada tahun 2013 mengalami penurunan yang cukup signifikan dari Rp.259.105.364.218 (tahun 2012) menjadi Rp.207.112.325.015.

Data yang penulis kumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil seminar langsung kepada pihak KPBS sedangkan data sekunder diperoleh dari catatan milik KPBS dan informasi-informasi tambahan melalui penjelajahan internet.

Dalam laporan ini penulis lebih menekankan analisis faktor-faktor yang menyebabkan penurunan aset dan laba usaha terhadap kinerja usaha Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pengalengan.

3.2 Analisis Kasus

Informasi data KPBS Pangalengan periode 2012 dan 2013

2

Tabel 2. Tabel perkembangan KPBS

KPBS Pangalengan terletak di wilayah Bandung Selatan yang merupakan wilayah yang dikelilingi gunung dan berada di dataran tinggi. Wilayah ini memiliki iklim yang sangat cocok untuk pemeliharaan sapi perah maupun perkebunan. Skala kepemilikan usaha sapi perah rata – rata bukan merupakan skala besar namun hampir seluruh penduduk di wilayah ini memiliki usaha sapi perah.

Kondisi keuangan KPBS Pangalengan pada tahun 2013 dapat dikatakan kurang baik karena terdapat penurunan di beberapa komponen, seperti penurunan aset dan laba kotor. Aset yang dimiliki oleh KPBS Pangalengan berupa tanah yang digunakan sebagai lahan usaha, kandang, pakan ternak, obat-obatan, vaksin, dan lain-lain. Ternak KPBS Pangalengan yang berupa sapi termasuk ke dalam aset tidak lancar karena memiliki masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun. Pada tahun 2012 jumlah aset yang dimiliki KPBS Pangalengan sebesar Rp 78.561.741.085, namun pada tahun 2013 terjadi penurunan menjadi Rp 77.084.261.572.

Hal ini disebabkan oleh penurunan populasi sapi dan jumlah anggota. Penurunan sapi akan mengakibatkan penurunan produksi susu rata-rata yang bisa berdampak terhadap laba kotor yang diperoleh koperasi.

Pada tahun 2012 populasi sapi KPBS Pangalengan berjumlah 16.871 ekor, tetapi pada tahun 2013 menurun sebesar 20,4 % menjadi 13.428 ekor. Sementara itu jumlah produksi susu rata-rata yang bisa dihasilkan pada tahun 2013 hanya sebesar 94.424 kg, padahal tahun 2012 KPBS Pangalengan mampu memproduksi sebesar 120.974 kg. Hal ini menyebabkan laba kotor yang diperoleh koperasi mengalami penurunan yang cukup signifikan. Laba kotor pada tahun 2013 mengalami penurunan yang cukup signifikan dari Rp.259.105.364.218 (tahun 2012) menjadi Rp.207.112.325.015

Ada beberapa faktor yang menyebabkan penurunan aktiva dan laba kotor KPBS Pangalengan, diantaranya :

1. Program swasembada daging

Program swasembada daging yang dicanangkan oleh pemerintah ternyata berdampak negatif kepada KPBS Pangalengan. Program swasembada daging ini dimaksudkan agar Indonesia tidak perlu mengimpor daging sapi dari luar negeri, tetapi hal ini berakibat terjadinya penjualan sapi-sapi perah oleh peternak penduduk sekitar untuk dijadikan sapi potong. Akibatnya populasi sapi perah mengalami penurunan sehingga suplai susu dari peternak berkurang yang menyebabkan produksi susu KPBS Pangalengan pun menurun. Produksi susu yang menurun dapat menyebabkan laba kotor yang diperoleh juga menurun.

2. Persaingan dengan bisnis lain

Daerah Pangalengan terletak di dataran tinggi dengan suhu udara antara  12 s/d 28 derajat celcius. Dengan kondisi alam seperti ini, maka daerah Pangalengan mulai dilirik para investor di bidang pertanian dan perkebunan. Para investor ini berlomba – lomba menciptakan lahan pertanian dan perkebunan yang produktif dan hasilnya dapat dijual kepada konsumen di kota, maupun di daerah Pangalengan. Hal ini menyebabkan lahan untuk peternakan mengalami penurunan yang bisa berdampak terhadap peternak sapi. Munculnya investor ini, berdampak juga kepada KPBS Pangalengan. Sebelumnya yang dikenal dari daerah Pangalengan adalah produksi susunya, tetapi saat ini dikenal juga penghasil stroberi, bluberi dan juga sayur – sayuran.

3. Perubahan pola perilaku masyarakat.

Seiring dengan modernisasi dan globalisasi yang melanda dunia saat ini, hal tersebut juga berpengaruh besar kepada perubahan pola perilaku masyarakat di daerah Pangalengan. Warga Pangalengan kebanyakan bekerja sebagai peternak dan juga petani. Ditinjau secara ekonomis, masyarakat bisa dibilang hidup berkecukupan dengan pekerjaan tersebut. Hidup yang berkecukupan menciptakan keinginan dari masyarakat untuk menikmati modernisasi dan globalisasi. Banyak peternak yang rela menjual sapinya untuk membeli sepeda motor atau telepon pintar keluaran terbaru.

Menurut Mulyadi (1997;419) penilaian kinerja adalah penentuan secara periodik efektivitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi, dan karyawannya berdasarkan sasaran, standar, dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Penilaian kinerja secara umum dapat diartikan sebagai penilaian/ukuran terhadap efektivitas dan efisiensi masing-masing individu atau organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan/organisasi. Berdasarkan laba yang diperoleh pada tahun 2013, dapat dikatakan kinerja usaha KPBS Pangalengan dalam keadaan yang kurang baik karena terjadinya penurunan laba yang signifikan yaitu sebesar Rp 52 Miliar pada tahun 2013. Tidak hanya laba saja yang mengalami penurunan, tetapi semua komponen juga mengalami penurunan seperti jumlah anggota, populasi sapi, produksi susu rata-rata dan jumlah aset yang dimiliki KPBS Pangalengan. Hal ini menandakan manajemen belum optimal dalam mengelola KPBS Pangalengan.

 

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa terdapat banyak faktor-faktor yang membuat KPBS Pangalengan mengalami penurunan pada aktiva dan laba kotor koperasi. Faktor-faktor tersebut diantaranya: program swasembada daging, persaingan dengan bisnis lain dan perubahan pola perilaku masyarakat. Hal ini jika tidak dicegah dan ditata kembali akan berdampak buruk bagi kelangsungan koperasi dan penduduk sekitar.

Semakin banyak jumlah sapi produktif yang dimiliki peternak semakin besar pula pendapatan yang diperoleh. Dari hasil analisis diatas dapat dilihat bahwa kinerja usaha KPBS Pangalengan masih kurang baik karena laba yang dihasilkan pada tahun 2013 menurun dibanding tahun lalu. Hal itu juga terjadi dalam semua komponen seperti penurunan jumlah anggota, populasi sapi, produksi susu rata-rata dan jumlah aset.

4.2 Saran

  1. Pihak KPBS sebaiknya memperbaiki pemeliharaan agar diperoleh hasil produksi sapi perah yang optimal.
  2. Pihak KPBS sebaiknya meningkatkan pengendalian internalnya sehingga diharapkan akan berdampak terhadap disegala aspek usaha.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

IKAPI.1997. Undang-Undang Republik Indonesia No. 25 tahun 1992 Tentang Perkoperasian. Semarang CV. Aneka Ilmu.

Kieso, Donald E., Jerry J. Weygandt, and Terry D. Warfield. 2007. Intermediate Accounting. 9th Ed. New York: John Willey & Sons, Inc

KPBS Pangalengan. (2011, Januari 26). Retrieved November 9, 2014, from http://kpbspangalengan.blogspot.com/

KPBS Pangalengan. (n.d.). Retrieved November 9, 2014, from http://www.kpbs.co.id/index.php?option=com_content&view=frontpage&Itemid=1

Mulyadi. 1997. Akuntansi Manajemen Keuangan (Konsep, Manfaat dan Rekayasa). Edisi Kedua, Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi. YKPN. Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s