9. Penjadwalan Jangka Pendek (Short-Term Scheduling)

Posted: November 9, 2013 in Manajemen Operasi

PENJADWALAN JANGKA PENDEK

(SHORT-TERM SCHEDULING)

UNJ

Disusun Oleh :

MUHAMMAD ARIEF FAUZI

8335123535

OPERATIONS MANAGEMENT

S1 AKUNTANSI REG B 2012

 

 

AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2013

Penjadwalan Jangka Pendek (Short-Term Scheduling)

 

A. Kepentingan Strategis Penjadwalan Jangka Pendek

  1. Penjadwalan yang efektif berarti pergerakan barang dan jasa pada sebuah fasilitas menjadi lebih cepat. Ini juga berarti perusahaan menggunakan aset secara lebih efektif sehingga menciptakan kapasitas yang lebih besar untuk setiap dolar yang ditanamkan, yang selanjutnya menghasilkan biaya yang lebih rendah.
  2. Kapasitas tambahan, pergerakan yang lebih cepat, dan fleksibilitas terkait menghasilkan pengiriman yang lebih cepat sehingga memberikan pelayanan pelanggan yang lebih baik.
  3. Penjadwalan yang baik juga berperan pada komitmen yang realistis sehingga menghasilkan pengiriman yang dapat diandalkan.

 

B. Isu-Isu Penjadwalan

Penjadwalan berkaitan dengan pemilihan waktu operasi. Keputusan penjadwalan dimulai dengan perencanaan kapasitas yang mencakup ketersediaan keseluruhan sumber daya fasilitas dan peralatan. Perencanaan kapasitas biasanya dibuat setiap tahun atau setiap tiga bulan ketika peralatan dan fasilitas baru dibeli atau dibuang. Perencanaan agregat biasanya dibuat setiap bulan, dan sumber daya dialokasikan atas dasar pengukuran agregat. Bagaimanapun juga, jadwal induk memecah-mecah rencana agregatnya, dan mengembangkan sebuah jadwal untuk produk atau lini produk tertentu setiap minggunya.

Kemudian, jadwal jangka pendek menerjemahkan keputusan kapasitas, perencanaan agregat, serta jadwal induk ke dalam urutan pekerjaan dan penugasan tertentu atas karyawan, material, dan permesinan. Tujuan penjadwalan adalah mengalokasikan dan memprioritaskan permintaan pada fasilitas yang ada. Dua faktor penting dalam melakukan alokasi dan prioritas ini adalah (1) jenis penjadwalan, maju atau mundur, dan (2) kriteria prioritas.

Penjadwalan Maju dan Mundur

Penjadwalan maju adalah penjadwalan yang memulai jadwal setelah persyaratan suatu pekerjaan diketahui. Penjadwalan maju digunakan dalam berbagai organisasi, seperti rumah sakit, klinik, rumah makan mewah, dan produsen peralatan mesin. Dalam fasilitas ini, pekerjaan dilakukan sesuai dengan pesanan pelanggan dan biasanya dikirim sesegera mungkin.

Penjadwalan mundur adalah penjadwalan yang dimulai dari batas waktu, dan menjadwalkan operasi yang terakhir terlebih dahulu. Kemudian, urutan pekerjaan dijadwalkan satu demi satu dalam susunan terbalik. Dengan mengurangi waktu tunggu untuk setiap barang.

 

C. Kriteria Penjadwalan

  1. Meminimalkan waktu penyelesaian.
  2. Memaksimaalkan utilisasi.
  3. Meminimalkan persediaan barang setengah jadi.
  4. Meminimalkan waktu tunggu pelanggan.

 

D. Penjadwalan Pusat Kerja yang Terfokus Pada Proses

Fasilitas yang terfokus pada proses merupakan sistem dengan variasi tinggi dan volume rendah yang biasanya dijumpai pada organisasi manufaktur dan jasa, ini merupakan sistem produksi di mana produk dibuat sesuai pesanan dan biasanya penjadwalannya menjadi sangat kompleks. Untuk menjalankan sebuah fasilitas secara seimbang dan efisien, manajer memerlukan sebuah sistem perencanaan dan pengendalian produksi. Sistem ini seharusnya:

  1. Menjadwalkan pesanan yang datang tanpa melampaui keterbatasan kapasitas pusat kerja masing-masing.
  2. Memeriksa ketersediaan peralatan dan bahan sebelum mengeluarkan pesanan ke suatu departemen.
  3. Menentukan batas waktu untuk setiap pekerjaan dan memeriksa kemajuan pekerjaan terhadap batas waktu dan waktu tunggu dari pemesanan.
  4. Memeriksa bahan setengah jadi selagi pekerjaan dilakukan.
  5. Memberikan umpan balik pada aktivitas pabrik dan produksi.
  6. Memberikan statistic efesiensi pekerjaan dan mengawasi waktu operator untuk kepentingan analisis pengupahan dan distribusi tenaga kerja.

Tiga jenis arsip perencanaan:

  1. Sebuah arsip induk barang, yang berisi informasi tentang setiap komponen yang dihasilkan atau dibeli oleh perusahaan.
  2. Sebuah arsip rute, yang menunjukkan aliran setiap komponen dalam perusahaan.
  3. Sebuah arsip induk pusat kerja, yang berisi informasi tentang pusat kerja, seperti kapasitas dan efesiensi.

 

E. Pembebanan Pekerjaan

Pembebanan berarti penugasan pekerjaan pada pusat kerja atau pusat pemrosesan. Para manajer operasi menugaskan pekerjaan pada pusat kerja sedemikian hingga biaya, waktu luang, atau waktu penyelesaian dijaga tetap minimal. Pertama, berorientasi pada kapasitas; kedua, berkaitan dengan penugasan pekerjaan tertentu bagi pusat-pusat kerja.

Pertama, pembebanan akan diuji dari segi kapasitas melalu sebuah teknik yang dikenal sebagai pengendalian input-output. Kemudian, akan disajikan dua pendekatan yang digunakan dalam pembebanan: diagram Gantt dan metode penugasan pemrograman linier.

a.      Pengendalian Input-Output

Pengendalian input-output adalah sebuah teknik yang membuat karyawan operasi dapat mengelola aliran fasilitas kerja. Pengendalian input-output adalah sebuah sistem yang menjadikan karyawan operasi dapat mengelola aliran fasilitas kerja dengan menambahkan pekerjaan pada sebuah pusat kerja dan pekerjaan tersebut diselesaikan. Pengendalian input-output dapat dilakukan dengan sebuah sistem kartu ConWIP (constan work-in-process) yang mengendalikan jumlah pekerjaan dalam suatu pusat kerja.

b.      Diagram Gantt

Diagram Gantt merupakan alat peraga visual yang bermanfaat dalam pembebanan dan penjadwalan. Ketika digunakan dalam pembebanan, diagram Gantt menunjukkan pembebaban dan waktu luang pada beberapa departemen, mesin, atau fasilitas. Diagram Gantt menunjukkan beban kerja dalam sistem sedemikian rupa sehingga manajer mengetahui penyusunan yang tepat. Kekurangan dari diagram ini adalah tidak memperhitungkan variabilitas produksi, sehingga harus diperbaharui secara berkala.

c.       Metode Penugasan

Metode penugasan mencakup proses  pelimpahan tugas atau pekerjaan pada sumber daya. Metode penugasan ini paling sering bertujuan untuk meminimalkan biaya total waktu yang diperlukan untuk melakukan tugas yang ada. Satu karakteristik permasalahan penugasan yang penting adalah hanya ada satu pekerjaan yang ditugaskan untuk satu mesin.

 

F. Pengurutan Pekerjaan

Penjadwalan memberikan dasar untuk membebankan pekerjaan pada pusat kerja. Pembebanan adalah sebuah teknik pengendalian kapasitas yang menyoroti masalah pemberian beban yang terlalu berat dan ringan. Pengurutan menentukan urutan pekerjaan yang harus dilakukan pada setiap pusat kerja.

a.      Aturan Prioritas untuk Membagikan Tugas

Aturan priorotas memberikan panduan untuk mengurutkan pekerjaan yang harus dilakukan. Aturan ini terutama diterapkan untuk fasilitas yang terfokus pada proses. Berikut aturan prioritas yang paling popular:

  1. FCFS (first come, first served), yang pertama datang, yang pertama dilayani.
  2. SPT (shortest processing time), pekerjaan dengan waktu pemrosesan terpendek diselesaikan terlebih dahulu.
  3. EDD (earliest due date), pekerjaan dengan batas waktu paling awal dikerjakan terlebih dahulu.
  4. LPT (longest processing time), pekerjaan dengan waktu pemrosesan paling panjang, dikerjakan terlebih dahulu.

b.      Rasio Kritis

Rasio kritis merupakan sebuah angka indeks yang dihitung dengan membagi waktu yang tersisa hingga batas waktu pekerjaan dengan waktu pekerjaan yang tersisa. Rasio kritis sangat dinamis dan mudah diperbaharui. Rasio kritis memberikan prioritas pada pekerjaan yang harus dilakukan agar tetap menepati jadwal.

CR =    Waktu yang tersisa   =    Batas waktu pekerjaan – Tanggal Sekarang

Hari kerja yang tersisa               Waktu pekerjaan yang tersisa

 

G. Mengurutkan Sejumlah N Pekerjaan Pada Dua Mesin: Aturan Johnson

Aturan Johnson dapat digunakan untuk meminimalkan waktu pemrosesan untuk mengurutkan sekelompok pekerjaan melalui dua pusat kerja. Aturan Johnson mencakup empat langkah berikut:

  1. Semua pekerjaan dimasukkan dalam sebuah daftar, berikut waktu yang dibutuhkan pada setiap mesin.
  2. Pilih pekerjaan dengan waktu aktivitas terpendek.
  3. Setelah sebuah pekerjaan dijadwalkan, hilangkan pekerjaan tersebut dari daftar.
  4. Terapkanlah langkah 2 dan 3 pada pekerjaan yang tersisa, dan selesaikan sampai ke pertengahan urutan jadwal.

Keterbatasan Sistem Pembagian Kerja Berbasis Aturan

  1. Penjadwalan bersifat dinamis.
  2. Aturan tidak melihat ke hulu atau ke hilir.
  3. Aturan tidak melihat yang lain di luar batas waktu.

 

H. Penjadwalan Kapasitas Terbatas

Penjadwalan kapasitas terbatas mengatasi kelemahan dari sistem yang hanya berdasarkan aturan dengan menyajikan proses perhitungan yang interaktif secara grafis kepada penjadwal. Penjadwalan kapasitas terbatas memungkinkan perubahan cepat secara maya yang dilakukan oleh operator.

 

I. Teori Batasan

Teori batasan adalah ilmu yang berkaitan dengan segala sesuatu yang membatasi kemampuan organisasi untuk mencapai tujuannya. Batasan dapat berupa batasan fisik atau nonfisik. Mengenali dan mengelola batasan-batasan ini melalui lima langkah proses:

  1. Identifikasi batasannya.
  2. Buat rencana untuk mengatasi batasan yang telah diidentifikasi.
  3. Pusatkan perhatian pada sumber daya untuk menyelesaikan langkah 2.
  4. Kurangi dampak dari batasan dengan mengurangi beban pekerjaan atau mengembangkan kmampuan. Pastikan semua batasan telah diidentifikasi oleh semua yang dapat berdampak pada batasan tersebut.
  5. Setelah semua batasan dapat diatasi, kembalilah ke langkah 1 dan lakukan identifikasi batasan baru.

Bottleneck

Pusat kerja bottleneck adalah batasan yang membatasi output produksi. Bottleneck memiliki kapasitas yang lebih sedikit dibandingkan dengan pusat kerja sebelumnya atau berikutnya. Bottleneck menghambat laju volume. Bottleneck adalah sebuah kejadian umum karena sistem yang dirancang dengan baik sekalipun jarang seimbang dalam waktu lama. Teknik untuk menghadapi bottleneck:

  1. Meningkatkan kapasitas batasan.
  2. Memastikan ketersediaan karyawan yang dilatih dengan baik dan bersilang untuk memastikan pengoperasikan dan pemeliharaan yang penuh atas pusat kerja yang menyebabkan terjadinya batasan.
  3. Membuat perputaran, prosedur pemrosesan, atau subkontraktor alternatif.
  4. Memindahkan pemeriksaan dan pengujian pada sebuah lokasi, tepat sebelum bottleneck.
  5. Menjadwalkan throughput untuk menyesuaikan kapasitas bottleneck.

Drum, Buffer, Rope

Adalah pemikiran lain dari teori batasan. Drum adalah denyut dari suatu sistem (memberikan jadwal – kecepatan dari proses produksi). Buffer adalah suatu sumber daya biasanya berupa persediaan yang dibutuhkan untuk mempertahankan batasan-batasan tetap beroperasi pada kapasitas tertentu. Rope memberikan keselarasan yang dibutuhkan untuk menarik unit-unit di seluruh sistem.

 

J. Penjadwalan Produksi Berulang

Produsen berulang ingin memenuhi permintaan pelanggan, mengurangi investasi persediaan, mengurangi ukuran lot dengan peralatan dan proses yang ada. Sebuah teknik untuk mencapai tujuan ini adalah menggunakan sebuah jadwal penggunaan material bertingkat. Penggunaan material bertingkat berarti penggunaan lot yang lebih sering, berkualitas tinggi, dan berukuran kecil yang berperan untuk produksi JIT. Kelebihan penggunaan material secara bertingkat:

  1. Mengurangi tingkat persediaan yang membebaskan modal untuk penggunaan yang lain.
  2. Memepercepat volume produksi.
  3. Memperbaiki kualitas komponen sehingga meningkatkan kualitas produk.
  4. Mengurangi kebutuhan luas lantai.
  5. Memperbaiki komunikasi pekerja sebab mereka menjadi semakin berdekatan.
  6. Melancarkan proses produksi karena lot yang besar tidak “menyembunyikan” permasalahan.

 

K. Penjadwalan Pada Sektor Jasa

Penekanan penjadwalan pada sistem manufaktur adalah mesin dan material, sedangkan pada jasa adalah susunan kepegawaian.

– Persediaan dapat memperlancar permintaan bagi manufaktur, tetapi kebanyakan sistem jasa tidak menyimpan persediaan.

– Sistem jasa adalah padat karya, dan permintaan tenaga kerja sangat bervaiasi.

– Pertimbangan hukum.

– Karena perusahaan jasa biasanya menjadwalkan tenaga kerja daripada menjadwalkan material, masalah tingkah laku, sosial, kedudukan yang lebih tinggi, dan status menjadikan penjadwalannya lebih rumit.

 

Daftar Pustaka

Heizer, Jay dan Render, Barry. 2010. Manajemen Operasi Edisi 9 Buku 2. Jakarta: Salemba Empat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s