2. Manusia Sebagai Makhluk Budaya

Posted: November 3, 2013 in ISBD

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA

UNJ

Disusun Oleh :

MUHAMMAD ARIEF FAUZI

8335123535

ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR

S1 AKUNTANSI REG B 2012

 

AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2013

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia dan kebudayaan merupakan salah satu ikatan yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan ini. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna menciptakan kebudayaan mereka sendiri dan melestarikannya secara turun menurun. Budaya tercipta dari kegiatan sehari hari dan juga dari kejadian – kejadian yang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.

Bahasa mempunyai relevansi yang kuat terhadap kebudayaan manusia. Relevansi itu nisa berupa nada bahasa, konsep gramatikal bahasa, ataupun konsep tingkatan bahasa. Dalam perspektif sosiolinguistik fungsi bahasa berhubungan dengan bagaimana menggunakan bahasa secara baik dan benar dalam situasi dan kondisi yang ada. Pemakai bahasa pun harus memperhatikan bahasa apa yang tepat digunakan saat berkomunikasi dengan situasi dan kondisi yang berbeda-beda.

B. Rumusan Masalah

Apa hakikat manusia sebagai makhluk berbudaya? Bagaimana sebenarnya kondisi bahasa daerah di Indonesia saat ini khususnya di daerah Aceh dan bagaimana pula peranan pemerintah dalam merevitalisasi bahasa daerah itu sendiri?

C. Tujuan

Agar para pembaca dapat mengetahui lebih dalam hakikat manusia sebagai makhluk berbudaya, mengetahui bagaimana kondisi penggunaan bahasa daerah di Indonesia khususnya di Aceh, serta mengetahui peranan pemerintah dan masyarakat dalam pelestarian bahasa daerah.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Budaya dan Kebudayaan

Budaya berasal dari kata budhaya, yaitu budi dan daya. Budi adalah unsur rohani dan daya adalah unsur perbuatan jasmani. Jadi kebudayaan dapat diartikan hasil dari akan ikhtiar manusia. Kebudayaan adalah salah satu istilah teoritis dalam ilmu-ilmu sosial. Secara umum, kebudayaan diartikan sebagai kumpulan pengetahuan yang secara sosial diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Makna ini kontras dengan pengertian kebudayaan sehari-hari yang hanya merujuk pada bagian tertentu warisan sosial, yakni tradisi sopan santun dan kesenian. Istilah kebudayaan ini berasal dari bahasa latin Cultura dari kata dasar colere yang berarti berkembang atau tumbuh.

Dari catatan Supartono, 1992, terdapat 170 definisi kebudayaan. Catatan terakhir Rafael Raga Mananada 300 buah, beberapa diantaranya :

• Ki Hajar Dewantara

Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.

• Robert H Lowie

Kebudayaan adalah segala sesuatu yang diperoleh individu dari masyarakat, mencakup kepercayaan, adat istiadat, norma-norma artistic, kebiasaan makan, keahlian yang diperoleh bukan dari kreatifitasnya sendiri melainkan merupakan warisan masa lampau yang didapat melalui pendidikan formal atau informal.

• Keesing

Kebudayaan adalah totalitas pengetahuan manusia, pengalaman yang terakumulasi dan yang ditransmisikan secara sosial.

• Koentjaraningrat

Kebudayaan berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar beserta keseluruhan dari hasil budi pekertinya.

• Rafael Raga Manan

Kebudayaan adalah cara khas manusia beradaptasi dengan lingkungannya, yakni cara manusia membangun alam guna memenuhi keinginan-keinginan serta tujuan hidupnya, yang dilihat sebagai proses humanisasi.

• Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi

Kebudayaan merupakan hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah.

B. Unsur Kebudayaan

Unsur-unsur kebudaaan menurut C. Kluckhon:

  1. Sistem religi dan kepercayaan
  2. Sistem organisasi kemasyarakatan
  3. Sistem pengetahan
  4. Sistem mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi
  5. Sistem teknologi dan peralatan
  6. Bahasa
  7. Kesenian

C. Wujud Kebudayaan

Menurut Koentjaraningrat ada 3 macam yaitu:

  1. Wujud ide kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan- gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang bersifat abstrak. Di Indonesia disebut adat istiadat.
  2. Wujud kebudayaan sebagai kompleks aktivitas dan tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat, terdiri atas aktivitas manusia berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan yang lainnya dari waktu ke waktu.
  3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia disebut dengan kebudayaan fisik.

Wujud kebudayaan menurut Melville dan Herskovits yaitu:

  1. Kekeluargaan
  2. Sistem ekonomi
  3. Kekuasaan politik
  4. Alat-alat teknologi

D. Substansi dan Isi Utama Kebudayaan

Ada enam isi atau substansi utama budaya, yaitu sebagai berikut:

1. Sistem Pengetahuan

Melalui sistem pengetahuan, manusia mampu beradaptasi untuk menyesuaikan hidupnya dengan alam sekitarnya. Melalui sistem pengetahuan juga manusia mampu meningkatkan produktivitas kebutuhan hidupnya.

2. Sistem Nilai Budaya

Menurut Koentjaraningrat, sistem nilai budaya terdiri atas konsep-konsep yang hidup dalam pikiran sebagian besar warga masyarakat. Oleh karena itu, suatu sistem nilai budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia.

3. Persepsi

Biasanya disebut juga sudut pandang dari seorang individu atau kelompok masyarakat mengenai suatu hal atau suatu masalah. Dalam hal tertentu, sering terjadi persepsi yang satu berbeda dengan persepsi yang lain. Akibatnya, akan terjadi konflik atau ketegangan, mulai dari hal yang sederhana sampai yang serius.

4. Pandangan Hidup

Pandangan hidup adalah konsep yang dimiliki seseorang atau golongan masyarakat yang bermaksud menanggapi atau menerangkan suatu masalah tertentu. Menurut Koentjaraningrat, pandangan hidup biasanya mengandung sebagian nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat. Pandangan hidup adalah suatu nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat dan dipilih secara selektif oleh individu, kelompok atau suatu bangsa. Pandangan hidup suatu bangsa adalah kristalisasi nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa itu sendiri, yang diyakini kebenarannya, dan menimbulkan tekad pada bangsa itu untuk mewujudkannya.

5. Etos Budaya

Menurut Koentjaraningrat, etos adalah watak khas dari suatu kebudayaan yang tampak (dari luar). Contoh etos antara lain, gaya tingkah laku, kegemaran, atau benda-benda hasil budaya yang khas. Menurut Clifford Geertz, etos budaya adalah sifat, watak, dan kualitas kehidupan sekelompok masyarakat atau bangsa. Termasuk ke dalam cakupan etos adalah moral, sikap perilaku, dan gaya estetika atau kepekaan seseorang terhadap seni dan keindahan.

6. Sistem Kepercayaan

Ada kalanya pengetahuan, pemahaman, dan daya tahan fisik manusia dalam menguasai dalam menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat terbatas. Secara bersamaan, muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari sistem jagad raya ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun hidup bermasyarakat, manusia tidak dapat dilepaskan dari religi atau sistem kepercayaan kepada penguasa alam semesta. Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan kebudayaan.

E. Jenis Kebudayaan

1. Kebudayaan material, antara lain: hasil cipta, karsa, yang berwujud benda, barang alat pengolah alam, seperti gedung, pabrik  jalanan, rumah, dan lain-lain.

2. Kebudayaan non-material, merupakan hasil karya cipta karsa yang berwujud kebiasaan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan lain-lain. Nilai non-material antara lain yaitu:

  1. Volkways atau norma kelaziman
  2. Mores atau norma kesusilaan
  3. Norma hukum
  4. Model atau fashion

F. Ciri-ciri Kebudayaan

  1. Produk manusia atau ciptaan manusia
  2. Bersifat sosial karena kebudayaan tidak pernah dihasilkan secara individual
  3. Diteruskan melalui proses belajar
  4. Bersifat simbolik karena mengekspresikan  manusia dan segala upayanya untuk mewujudkan dirinya
  5. Sistem pemenuhan berbagai kebutuhan manusia, manusia memenuhi kebutuhannya dengan cara beradap atau manusiawi

Oleh sebab itu kebudayaan mempunyai peran sebagai berikut:

  1. Sebagai pedoman terhadap hubungan antara manusia individu dengan individu atau antar kelompok
  2. Sebagai wadah untuk menyalurkan kemampuan dan perasaan manusia
  3. Sebagai pembimbing kehidupan dan penghidupan manusia
  4. Sebagai pembeda antara manusia dengan binatang
  5. Sebagai petunjuk bagaimana manusia bertindak dan berprilaku dalam pergaulan
  6. Sebagai pengatur agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat, menentukan sikapnya jika berhubungan dengan orang lain
  7. Sebagai model dasar pembangunan

G. Hakikat Manusia Sebagai Makhluk Budaya

Makhluk Tuhan yang ada di alam ini terdiri dari alam, tumbuhan, binatang dan manusia. Sifat-sifat yang dimiliki ke empat makhluk tersebut adalah:

  1. Alam memiliki sifat wujud
  2. Tumbuhan memiliki sifat dan wujud
  3. Binatang memiliki sifat wujud, hidup dan dibekali nafsu
  4. Manusia memiliki sifat wujud, hidup dan dibekali nafsu dan akal budi

Akal budi merupakan pemberian sekaligus potensi dalam diri manusia yang tidak di miliki oleh makhluk lain. Akal adalah kemampuan berfikir manusia sebagai kodrat alami yang dimiliki. Jadi fungsi dari akal adalah berpikir, manusia di anugerahi Allah akal maka manusia dapat berpikir. Kemampuan berpikir manusia juga digunakan untuk memecahkan masalah-masalah.

H. Tingkat Kebutuhan Manusia Dalam Bentuk Piramida Menurut Abraham Maslow

Secara garis besar level kebutuhan manusia menurut maslow dapat dijabarkan satu persatu.

1. Kebutuhan Psikologis

Kebutuhan ini kebutuhan yang paling mendasar bagi manusia dan berkaitan dengan kebutuhan biologis seperti kebutuhan makan, minum, bernapas dll.

2. Kebutuhan Akan Rasa Aman

Kebutuhan yang dapat terpenuhi jika kebutuhan psikologis telah lebih dahulu terpenuhi. Kebutuhan akan rasa amanlah yang menjadikan sebagian besar orang menyimpan uangnya di bank, mengasuransikan rumah dan kendaraannya dan bahkan kebutuhan ini juga lah yang menjadikan orang tua melindungi anak-anaknya dengan penuh perhatian.

3. Kebutuhan Mencintai dan Memiliki

Tingkat ketiga dari teori Abraham maslow terkait dengan kebutuhan manusia adalah kebutuhan untuk mencintai, menyayangi, memiliki. Maslow menyatakan bahwa manusia memiliki kecendurungan untuk mengatasai kesendirian dan kesepian. Mungkin dengan alasan ini juga manusia diciptakan berpasangan agar dapat tumbuhnya rasa saling menyayangi dan melengkapi satu sama lain. Kebutuhan ini jugalah yang menjadikan tumbuhnya persahabatan, kelompok-kelompok sosial, organisasi kemasyarakatan dan lainnya.

4. Kebutuhan Untuk Dihargai dan Menghargai

Untuk dihargai bagi beberapa orang menjadi kebutuhan yang sangat penting, karena pada hakikatnya, menjadi sifat dasar manusia untuk dihormati, diperhatikan dan menjadi eksis. Setiap manusia ingin keberadaannya dirasakan oleh orang lain akan tetapi ketidakseimbangan yang terjadi, kebutuhan untuk dihargai jauh lebih dominan daripada kebutuhan untuk menghargai orang lain, dapat mengakibatkan hal yang kurang baik.

5. Kebutuhan Untuk Mengaktualisasi Diri

Tahapan ini adalah tahapan tertinggi dari piramida kebutuhan manusia sesuai dengan teori maslow. Seseorang akan mampu menempatkan dirinya di mayarakat dan tidak lagi sibuk memenuhi kebutuhan pribadinya.

BAB III

STUDI KASUS

Menatap Masa Depan Bahasa Daerah: Studi Kasus di Aceh

A. Pendahuluan

Bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa menjadi salah satu penanda bagi sebuah bangsa. Bagaimana bahasa dalam kapasitas sebagai alat komunikasi dan juga medium berekspresi diolah oleh seseorang atau sekelompok orang sehingga muncul sebuah watak atau karakter dari orang atau kelompok yang mengolahnya tersebut.

Bahasa secara fungsional masih menimbulkan pro dan kontra berdasarkan tingkat kepentingannya. Sebagian orang mengatakan bahwa bahasa merupakan hal yang penting. Artinya, bahasa harus betul-betul diperhatikan dan diurusi. Sebagian pendapat mengatakan bahwa bahasa merupakan sesuatu yang tidak penting sehingga tidak perlu diberi porsi yang banyak dalam pembinaan ataupun pengembangannya. Ada juga yang mengatakan bahwa bahasa tidak dapat menghasilkan apa-apa atau tidak berkorelasi langsung dengan persoalan materi. Oleh karena itu, bahasa tidaklah terlalu penting untuk diperhatikan. Benarkah demikian? Jawabannya dapat ya, dapat juga tidak, atau kedua-duanya benar. Hal itu sangat bergantung pada cara pandang kita.

B. Kondisi Bahasa Daerah Saat Ini

Kecenderungan yang terjadi, hampir di setiap daerah, adalah bahwa bahasa daerah semakin terabaikan atau kalau boleh kita katakan semakin terpinggirkan. Bahasa daerah “digempur” habis-habisan oleh dominasi bahasa nasional dan bahasa asing. Situasi seperti itu menjadi fenomena yang umum di setiap daerah di Indonesia meskipun beberapa daerah ada yang telah membuat peraturan daerah (perda) tentang bahasa daerahnya. Bahkan, badan dunia PBB UNESCO menyatakan bahwa bahasa yang memiliki jumlah penutur kurang dari seribu orang memiliki potensi kepunahan yang sangat tinggi. Bagaimana halnya dengan bahasa daerah di Provinsi Aceh?

Sementara ini, hasil pemetaan bahasa di Provinsi Aceh yang dilakukan oleh tim pemetaan bahasa Balai Bahasa Banda Aceh menunjukkan adanya gejala kepunahan bahasa, terutama bahasa daerah yang berada di Kepulauan Banyak, yaitu bahasa Devayan. Secara administratif, wilayah Kepulauan Banyak berada di bawah pemerintah Kabupaten Aceh Singkil. Hasil kajian yang dilakukan oleh Balai Bahasa Banda Aceh terhadap bahasa Devayan bukan tidak mungkin juga akan menjangkiti bahasa daerah lain yang ada di Provinsi Aceh. Tidak terkecuali bahasa Aceh yang memiliki wilayah pakai di hampir setiap wilayah di Provinsi Aceh. Penutur terbanyak bahasa daerah di Provinsi Aceh adalah bahasa Aceh, lalu disusul bahasa Gayo. Sebuah teori menyebutkan bahwa kelangsungan sebuah bahasa atau hidup matinya sebuah bahasa sangat bergantung pada penutur bahasa yang bersangkutan. Dengan demikian, bahasa daerah  harus dikembangkan dan dibina dalam rangka kelangsungan hidupnya kelak apabila tidak menginginkan bahasa daerah tertentu hanya tinggal nama.

Kondisi bahasa daerah yang semakin terpinggirkan biasanya menjangkiti mereka yang dikategorikan sebagai golongan remaja atau kaum muda. Masa krusial pada aspek daur hidup manusia adalah masa remaja. Usia remaja sangat rentan oleh pengaruh dari dunia luar karena pada usia itu terjadi proses pencarian jati diri. Pada sisi bahasa, remaja menjadi komunitas yang memiliki kecenderungan untuk berubah. Perubahan tersebut seperti tercerabut dari akar bahasanya sendiri. Tidak jarang di perkotaan terjadi fenomena bahwa kaum remaja tidak menguasai lagi bahasa daerahnya, apalagi dengan maraknya apa yang kita kenal dengan bahasa gaul. Kita tidak fobia atau takut atas setiap fenomena kebahasaan seperti itu. Akan tetapi, alangkah bijaknya apabila dasar fondasi bahasa daerah atau bahasa pertama diperkuat terlebih dahulu. Hal itu sangat berkaitan dengan domain bahasa.

Apabila kita berkaca pada kasus di Provinsi Aceh, di sisi kebijakan terasa ada perlakuan yang berbeda. Perlakuan itu salah satunya mengakibatkan tertundanya kegiatan Kongres Bahasa Aceh yang sebelumnya (akan) rutin diagendakan. Ketiadaan kemauan politik para pemegang kebijakan di daerah disebabkan oleh kurang sensitifnya para pemegang kebijakan atas persoalan bahasa daerah. Rumor yang selama ini penulis peroleh tentang tertundanya kongres adalah karena masalah pengajuan penganggaran yang selalu “mentah”, baik di tingkat eksekutif maupun legislatif. Tampaknya ada semacam anggapan bahwa persoalan bahasa dirasakan belum begitu penting sehingga pembangunan di Aceh lebih difokuskan pada pembangunan yang bersifat materi. Sering kali dalam setiap kesempatan penulis menekankan pentingnya bahasa sebagai bagian humanisme dalam mengobati luka Aceh yang telah berlangsung bertahun-tahun akibat konflik. Akan tetapi, hal itu belum cukup untuk memunculkan satu kebijakan dari pemangku kepentingan di daerah akan penanganan bahasa daerah yang komprehensif dan berkelanjutan.

Sikap berbahasa penutur bahasa daerah sendiri pun terkadang cenderung negatif. Hal itu dapat diketahui dari keengganan mereka berbahasa daerah. Mereka akan memilih kata asing yang terlihat lebih intelek atau lebih modern yang terkadang secara konseptual tidak dimengerti oleh mereka secara pasti. Itulah kelatahan masyarakat kita yang memunculkan fenomena budaya nginggris, pokoknya asal berbahasa asing (Inggris), termasuk fenomena di Kota Banda Aceh. Penulis pernah mengadakan survei kecil-kecilan dengan mengambil ruas jalan utama di sekitar kawasan perdagangan sebagai objek survei. Hampir 70% penulisan papan nama tempat usaha di sepanjang jalan utama tersebut menggunakan kata asing, seperti fashion dan babyshop. Timbul pertanyaan dalam benak penulis: apakah orang yang berbelanja di toko tersebut orang asing? Jika bukan, apakah semua orang di Aceh akan diinggriskan? Penulis merasa kondisi seperti itu terjadi di setiap kota di Indonesia. Itulah yang menjadi tantangan kita guna memartabatkan bahasa daerah dan juga bahasa nasional.

Pada saat ini telah hadir Undang-Undang No.24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara, dan Lagu Kebangsaan. Khusus tentang bahasa, di dalam undang-undang tersebut telah diatur bagaimana kedudukan dan fungsi bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa asing. Seiring era otonomi daerah, ada tanggung jawab moral pada pemerintah daerah untuk secara aktif melakukan pembinaan terhadap bahasa daerah di wilayahnya.

Bagaimana dengan di Provinsi Aceh? Kita menunggu kiprah para pemegang kebijakan, khususnya soal kebudayaan, terutama soal bahasa,  untuk “sekadar” melirik keberadaan bahasa daerah. Jangan sampai kita menyesal tanpa melakukan antisipasi sehingga tidak sampai terjadi ada bahasa daerah di Aceh kelak hanya tinggal nama. Aceh perlu untuk maju dan berkembang seperti halnya daerah lain. Akan tetapi, agar tidak semua telanjur, ada baiknya para pemangku kebijakan di daerah mencermati moto globalisasi, yakni berpikir secara lokal, bertindak secara global (think locally, act globaly), supaya pembinan terhadap bahasa daerah terealisasi. Kita boleh menjadi bagian pemain di dalam modernitas itu, tetapi tetap kukuh dengan nilai-nilai keacehan. Dengan demikian, identitas keacehan kita tetap dapat dipertahankan.

C. Kesimpulan

Bahasa daerah, terlepas dari persoalan pro dan kontra, harus tetap diperhatikan. Dengan revitalisasi bahasa daerah otomatis akan meningkatkan daya hidup dan daya ungkap bahasa daerah dalam memperkaya kebudayaan Indonesia. Sering kali kita terjebak pada hitungan matematis tentang untung rugi melestarikan bahasa daerah. Bahasa daerah adalah aset yang berharga bagi Indonesia. Oleh karena itu, sudah saatnya para pemangku kepentingan di bidang kebahasaan ini secara ikhlas melakukan upaya pelestarian dengan kapasitas dan peran masing-masing.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Timoera, D. A. (2012). Ilmu Sosial Budaya Dasar. Jakarta: Unit Pelaksana Teknis UPT MKU.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s