3. Just in Time

Posted: September 14, 2013 in Akuntansi Biaya

JUST IN TIME

UNJ

Disusun Oleh :

MUHAMMAD ARIEF FAUZI

MUHAMMAD IDRIS

SEPTIAN WIJAYA

TONI PRASETIYO

AKUNTANSI BIAYA

S1 AKUNTANSI REG B 2012

 

AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2013

A. Pengertian JIT (Just in Time)

Just in Time adalah filosofi yang dipusatkan pada pengurangan biaya melalui eliminasi persediaan. JIT dikembangkan oleh perusahaan otomotif Jepang tahun 1950-an.

Semua bahan baku dan komponen sebaiknya tiba di lokasi kerja pada saat dibutuhkan tepat waktu. Produk sebaiknya selesai dan tersedia bagi pelanggan, di saat pelanggan menginginkannya tepat waktu. Eliminasi persediaan mengurangi tempat penyimpanan dan biaya penyimpanan, sekaligus mengeliminasi perlindungan atas kesalahan produksi dan ketidakseimbangan persediaan.

Jadi, dalam sistem JIT menuntut beban kerja yang berkualitas dan seimbang, agar terhindar dari penghentian produksi yang menimbulkan biaya mahal dan kecewa pelanggan. JIT merupakan bagian penting dalam TQM, identik dengan usaha eliminasi pemborosan.

  • Prinsip JIT dapat diterapakan dalam memperbaiki pemeliharaan rutin.
  • Berguna juga dalam mengelola pekerjaan di kantor, bisnis jasa, atau departemen jasa suatu pabrik dalam menurunkan kebutuhan persediaan dipabrik atau ritel dan berbagai aspek lain dari operasi suatu bisnis.

Aspek yang paling terlihat dari JIT adalah usaha mengurangi persediaan barang dalam proses dan bahan baku yang sering disebut produksi tanpa persediaan, produksi ramping, atau produksi dengan persediaan sama dengan nol. Wewenang untuk membuat komponen tersebut di lokasi kerja berikutnya dalam lini produksi.

JIT merupakan kasus khusus dari EOQ (Economic Order Quantity) dalam jumlah yang sangat kecil, yang ideal adalah ukuran batch = 1 unit. Agar JIT dapat beroperasi dengan seharusnya, waktu persiapan harus pendek, aliran produksi melalui berbagai lokasi kerja harus seragam, karakteristik yang umum dalam manufaktur repetitif.

 

JIT berusaha mengurangi persediaan, karena dipandang sebagai pemborosan. Persediaan mewakili sumber daya yang tidak digunakan dan dapat menyebabkan pemborosan lain. Tujuan mengurangi persediaan ke titik nol, hanya mungkin dalam kondisi :

  1. Biaya dan waktu persiapan yang rendah atau tidak signifikan.
  2. Ukuran lot = 1
  3. Waktu tunggu mínimum atau hampir seketika.
  4. Beban kerja yang seimbang dan merata.
  5. Tidak ada interupsi karena kehabisan persediaan, kualitas buruk, pemeliharaan mesin tidak sesuai jadwal, perubahan spesifikasi, atau perubahan lain yang tidak terencana.

JIT menstimulasi perbaikan konstan dalam kondisi lingkungan yang menyebabkan penumpukan persediaan. Pengurangan persediaan dicapai melalui proses :

  1. Persediaan dikurangi sampai suatu masalah ditemukan dan diidentifikasikan.
  2. Ketika permasalahan sudah didefinisikan, tingkat persediaan dinaikkan untuk menyerap dampak masalah dan agar sistem dapat beroperasi dengan lancar.
  3. Masalah itu dianalisis dan cara praktis diidentifikasik untuk mengurangi atau menghilangkan masalah.
  4. Ketika masalah telah dikurangi, tingkat persediaan dikurangi lagi sampai ditemukan dan diidentifikasi masalah berikutnya.
  5. Langkah 2 – 4 diulang hingga pada tingkat persediaan mínimum yang paling memungkinkan dicapai.

B. Persediaan Just in Time

Just In Time adalah suatu keseluruhan filosofi operasi manajemen dimana segenap sumber daya, termasuk bahan baku dan suku cadang, personalia, dan fasilitas dipakai sebatas dibutuhkan. Tujuannya adalah untuk mengangkat produktifitas dan mengurangi pemborosan. Just In Time didasarkan pada konsep arus produksi yang berkelanjutan dan mensyaratkan setiap bagian proses produksi bekerja sama dengan komponen-komponen lainnya. Tenaga kerja langsung dalam lingkungan Just In Time dipertangguh dengan perluasan tanggung jawab yang berkontribusi pada pemangkasan pemborosan biaya tenaga kerja, ruang dan waktu produksi.

Perusahaan-perusahaan pabrikasi menyimpan tiga jenis persediaan : bahan baku,barang dalam proses, dan barang jadi. Persediaan-persediaan ini dirancang untuk bertindak sebagai penyangga sehingga kegiatan-kegiatan perusahaan tetap dapat berjalan mulus kendatipun para pemasok terlambat melakukan pengiriman atau bilamana sebuah departemen tidak mampu beroperasi selama beberapa waktu karena sesuatu atau hal lainnya. Persediaan-persediaan ini dirancang untuk bertindak sebagai penyangga sehingga kegiatan-kegiatan perusahaan tetap dapat berjalan mulus kendatipun para pemasok terlambat melakukan pengiriman atau bilamana sebuah departemen tidak mampu beroperasi selama beberapa waktu karena sesuatu atau hal lainnya.

Namun penyimpanan persediaan-persediaan itu sudah barang tentu memakan biaya besar. Sistem Just In Time merupakan upaya untuk mengurangi atau menghilangkan persedian. Perusahaan yang mengadopsi system Just In Time ke proses produksinya mestilah merancang kembali fasilitas –fasilitas pabrikasinya dan kejadian – kejadian yang memicu proses Produksi berdasarkan prediksi terhadap masa yang akan datang dalam sistem tradisonal memiliki resiko kerugian yang lebih besar karena over produksi daripada produksi berdasarkan permintaan yang sesungguhnya.

Oleh karena itu munculah ide Just In Time yang memproduksi apabila ada permintaan. Suatu proses produksi hanya akan memproduksi apabila diisyaratkan oleh proses berikutnya. Sebagai akibatnya pemborosoan dapat dihilangkan dalam skala besar, yaitu berupa perbaikan kualitas dan biaya produksi yang lebih rendah. Kedua hal tersebut menjadikan perusahaan lebih kooperatif. Tujuan utama Just In Time adalah untuk meningkatkan laba dan posisi persaingan perusahaan yang dicapai melalui usaha pengendalian biaya, peningkatan kualitas, serta perbaikan kinerja pengiriman.

C. Just in Time dan Percepatan Waktu Produksi

BDP punya hubungan penting dengan kecepatan. Jika tingkat output tetap sementara jumlah unit dalam proses diturunkan, maka kecepatan sistem telah digandakan. Kecepatan berhubungan terbalik dengan throughput time

Peningkatan kecepatan akan mengurangi waktu memenuhi pesanan produksi, bahkan mungkin dicapai zero inventory untuk barang jadi karena semua pengiriman dibuat sesuai pesanan.

Tujuan JIT adalah mengurangi waktu siklus total (terutama waktu proses yang signifikan dalam produk). Mengurangi waktu total siklus berarti mengurangi biaya d    an meningkatkan daya saing.

Misal, biaya penyimpanan tahunan 25% dari biaya produksi variabel dan biaya variabel rata-rata BDP Rp.2.000.000,- manajemen merencanakan menggunakan JIT untuk menggandakan kecepatan BDP tanpa mengubah total output tahunan. Ini dicapai dengan mengurangi ukuran batch menjadi setengahnya. Tidak ada perubahan dalam perencanaan persediaan bahan baku atau persediaan barang jadi. Rata-rata BDP akan dikurangi setengahnya, sehingga menghemat biaya penyimpanan tahunan Rp.250.000 (25% x ½ x Rp.2.000.000).

D. Just in Time dan Kerugian Produksi                                             

Dengan JIT, tidak akan ada barang setengah jadi yang tersimpan atau menunggu antara satu tahap produksi dengan tahap berikutnya, sehingga menghilangkan kemungkinan keterlambatan pendeteksian barang cacat, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas dan mengurangi biaya.

Disamping beberapa keuntungan potensial dengan BDP yang rendah, ada beberapa biaya yang harus di-offset dalam pengurangan BDP:

  1. Penanganan sebagian besar batch-batch BDP yang lebih kecil, termasuk biaya memproses lebih banyak pesanan produksi dan permintaan bahan baku, jika dokumen ini tetap digunakan, dan biaya untuk menangani lebih banyak untuk pengangkutan baha baku.
  2. Makin tingginya probabilitas terhentinya produksi karena perseidaan pengaman yang lebih kecil di tiap lokasi kerja.
  3. Kemungkinan biaya persediaan tidak dapat dikurangi sedemikian rupa sehingga dapat mengimbangi jumlah persiapan yang harus dilakukan.

E. Pembelian dalam Sistem Just In Time

Pendekatan JIT untuk pembelian menekankan pada pengurangan jumlah pemasok serta memperbaiki mutu bahan baku mapun fungsi pembelian. Agar bisa memindahkan bahan baku secara langsung dari pemasok ke ruang produksi dengan sedikit atau tanpa inspeksi, dan menghilangkan kebutuhan ruang penyimpanan jangka panjang

Beberapa hambatan dalam pembelian JIT:

  1. Layout proses produksi
  2. Frekuensi perubahan jadual
  3. Sikap agen pembelian dan pemasok
  4. Keandalan pengangkutan
  5. Jarak pemasok

Pembelian JIT yang sudah dikembangkan dengan baik menggunakan pesanan pembelian gabungan, yang merupakan perjanjian dengan pemasok yang menyatakan jumlah yang diperkirakan akan dibutuhkan selama perioda tiga atau enam bulan ke depan. Jumlah dan tanggal pasti tiap pengantaran ditetapkan lewat telepon atau EDI. Sehingga menghilangkann beberapa form yang diperlukan dalam pembelian atau pengadaan bahan baku.

F.    Just in Time dan Pengorganisasian Pabrik

Salah satu pendekatan JIT adalah untuk mengubah dari layout tradisional menjadi unit unit kerja. Suatu unit bertanggung jawab untuk seluruh produksi dari suatu produk atau komponen, atau sekelompok dari produk atau komponen yang serupa.

Selain pengawasan, tugas lain yang biasanya dianggap sebagai tugas yang dilakukan oleh tenaga kerja tidak langsung dibebankan ke pekerja unit. Mereka menghentikan produksi setiap kali output unit mereka tidak dibutuhkan dan memulai kembali produksi ketika output tersebut dibutuhkan kembali, menerima dan memindahkan bahan baku, memelihara, menyimpan dan menganti peralatan, cetakan dan perlengkapan unit serta mempersiapkan dan memperbaiki mesin-mesin sel. Akibatnya untuk mengukur tenaga kerja langsung dan tidak langsung secara terpisah menjadi tidak mungkin, karena seorang pekerja dapat berpindah dalam mengerjakan tugas dari tenaga kerja langsung ke tenaga kerja tidak langsung dan sebaliknya dalam beberapa menit atau detik.

Jika seluruh pabrik diatur menjadi unit, hasilnya adalah hilangnya departemen produksi tradisional maupun hampir semua departemen jasa. Penjadwalan, penerimaan, penanganan bahan baku, penyimpanan peralatan, persiapan, pemeliharan, inspeksi barang dalam proses, dan inspeksi barang jadi semuanya dilakukan oleh pekerja sel dan bukannya oleh departemen jasa yang terpisah. Fungsi tradisional dari departemen jasa termasuk penyimpanan bahan baku, penyimpanan barang dalam proses, penyimpanan barang jadi, inspeksi penerimaan, dan percepatan mungkin sama sekali tidak dibutuhkan.

Dampak dari pengaturan tersebut terhadap mutu produk bisa mengesankan. Ingat kembali bahwa salah satu unsur dari total Quality Managemen adalah pemberdayaan pekerja. Dampak akhir dari Just In Time atas pengaturan pabrik adalah pada kebutuhan akan luas lantai pabrik. Banyak pihak yang menerapkan JIT terkejut atas besarnya luas lantai pabrik yang tidak lagi diperlukan.

G.    Produksi JIT

Produksi JIT adalah sistem penjadwalan produksi komponen atau produk yang tepat waktu, mutu, dan jumlahnya sesuai dengan yang diperlukan oleh tahap produksi berikutnya atau sesuai dengan memenuhi permintaan pelanggan.

Produksi JIT dapat mengurangi waktu dan biaya produksi dengan cara:

  1. Mengurangi atau meniadakan barang dalam proses dalam setiap workstation (stasiun kerja) atau tahapan pengolahan produk (konsep persediaan nol).
  2. Mengurangi atau meniadakan “Lead Time” (waktu tunggu) produksi (konsep waktu tunggu nol).
  3. Secara berkesinambungan berusaha sekeras-kerasnya untuk mengurangi biaya setup mesin-mesin pada setiap tahapan pengolahan produk (workstation).
  4. Menekankan pada penyederhanaan pengolahan produk sehingga aktivitas produksi yang tidak bernilai tambah dapat dieliminasi.

Perusahaan yang menggunakan produksi JIT dapat meningkatkan efisiensi dalam bidang:

  1. Lead time (waktu tunggu) pemanufakturan
  2. Persediaan bahan, barang dalam proses, dan produk selesai
  3. Waktu perpindahan
  4. Tenaga kerja langsung dan tidak langsung
  5. Ruangan pabrik
  6. Biaya mutu
  7. Pembelian bahan

Penerapan produksi JIT dapat mempunyai pengaruh pada sistem akuntansi biaya dan manajemen dalam beberapa cara sebagai berikut:

  1. Ketertelusuran langsung sejumlah biaya dapat ditingkatkan
  2. Mengeliminasi atau mengurangi kelompok biaya (cost pools) untuk aktivitas tidak langsung
  3. Mengurangi frekuensi perhitungan dan pelaporan informasi selisih biaya tenaga kerja dan overhead pabrik secara individual
  4. Mengurangi keterincian informasi yang dicatat dalam “work tickets”

H. Kesimpulan

Dalam menangani tingginya biaya, menurunnya laba, dan menajamnya persaingan telah mengakibatkan perusahaan mencari cara-cara untuk merampingkan kegiatan usaha mereka dan mengumpulkan lebih banyak data akurat untuk tujuan pengambilan keputusan. Oleh karena itu muncullah ide Just In Time (JIT) yang hanya memproduksi apabila ada permintaan. Akibatnya pemborosan dapat dihilangkan dalam skala besar, yaitu berupa perbaikan kualitas dan biaya produksi yang lebih rendah. Tujuan utama JIT adalah untuk meningkatkan laba dan posisi persaingan perusahaan yang dicapai melalui usaha pengendalian biaya, peningkatan kualitas, serta perbaikan kinerja pengiriman.

Prinsip dasar JIT adalah meningkatkan kemampuan secara terus-menerus untuk merespon perubahan dengan meminimisasi pemborosan. Ada empat aspek pokok dalam sistim JIT yaitu :

  1. Menghilangkan semua aktivitas atau sumber-sumber yang tidak memberikan nilai tambah terhadap produk.
  2. Komitmen terhadap kualitas prima.
  3. Mendorong perbaikan berkesinambungan untuk meningkatkan efisiensi.
  4. Memberikan tekanan pada penyederhanaan aktivitas dan peningkatan visibilitas yang memberikan nilai tambah.

Persediaan JIT adalah untuk sistem persediaan yang dirancang guna mendapatkan barang secara tepat waktu. Pada persediaan JIT mensyaratkan bahwa proses atau orang yang membuat unit-unit rusak dapat dikirim untuk menunggu pengerjaan ulang atau menjadi bahan sisa. Sistim JIT menghapus kebutuhan akan persediaan karena tidak ada produksi sampai barang akan dijual. Hal ini berarti bahwa perusahaan harus mempunyai pesanan terus menerus agar dapat berproduksi.

Dalam system JIT menerapkan untuk membeli barang hanya dalam kuantitas yang dibutuhkan saja. Untuk itu perusahaan harus mengikat kontrak panjang kepada pemasok agar bersedia mengirimkan barang yang kita pesan sesering mungkin. Hal ini agar tidak adanya persediaan di gudang.

Produsi JIT adalah suatu sistem dimana tiap komponen dalam jalur produksi menghasilkan secepatnya saat diperlukan dalam langkah selanjutnya dalam jalur produksi. Perusahaan harus memproduksi barang sesuai dengan jumlah pesanan agar tidak adanya persediaan.

Pada system JIT perusahaan harus meningkatkan kualitasnya agar dapat bersaing dengan perusahaan yang lain. Untuk perusahaan harus memperhatikan kualitas mutunya. Dalam pengiriman barang dalam JIT harus tepat waktu, sesuai dengan jumlah pesanan dan dengan kualitas yang bermutu tinggi. Karena hal ini dapat mempengaruhi kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan produksi. Jika pelanggan senang maka ia akan sering melakukn pesanan terhadap perusahaan produksi dan sebaliknya jika pelanggan tidak puas maka pelanggan akan memilih ke perusahaan produksi lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s