1. Quality Management (Manajemen Kualitas)

Posted: September 8, 2013 in Manajemen Operasi

MANAJEMEN KUALITAS (QUALITY MANAGEMENT)

UNJ

Disusun Oleh :

MUHAMMAD ARIEF FAUZI

8335123535

OPERATIONS MANAGEMENT

S1 AKUNTANSI REG B 2012

 

 

AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2013

MANAJEMEN KUALITAS (QUALITY MANAGEMENT)

A. Kualitas dan Strategi

Arnold Palmer Hospital menemukan bahwa kualitas merupakan obat kuat untuk memperbaiki operasi. Mengelola kualitas membantu mambangun strategi diferensiasi, biaya rendah, dan respon cepat sukses. Kualitas adalah faktor penentu keberhasilan bagi perusahaan-perusahaan. Peningkatan kualitas membantu perusahaan meningkatkan penjualan dan mengurangi biaya yang kemudian akan meningkatkan keuntungan. Suatu strategi kualitas yang berhasil dimulai dengan lingkungan organisasi yang membantu perkembangan kualitas yang berhasil dan diikuti oleh pemahaman prinsip kualitas; upaya untuk melibatkan para pekerja dalam aktivitas yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan kualitas.

Pengaruh Kualitas

  1. Reputasi Perusahaan. Kualitas akan muncul sebagai persepsi tentang produk baru perusahaan, kebiasaan pekerjanya, dan hubungan pemasoknya.
  2. Kehandalan Produk. Pengadilan terus berusaha menghukum organisasi-organisasi yang merancang, memproduksi, atau mengedarkan produk atau jasa yang penggunaannya mengakibatkan kerusakan atau kecelakaan. Contohnya: Consumer Product Safety Act.
  3. Keterlibatan global. Kualitas adalah suatu perhatian internasional. Produk-produk perusahaan yang akan bersaing di pasar internasional harus memenuhi ekspetasi akan kualitas, desain, dan harganya secara global.

Biaya Kualitas

Adalah biaya akibat melakukan hal yang salah, yaitu harga yang harus dibayar karena tidak sesuai dengan standar. Ada empat kategori utama yang dikaitkan dengan biaya kualitas, yaitu:

  1. Biaya Pencegahan. Biaya yang terkait dengan mengurangi kemungkinan komponen atau jasa mengalami kerusakan. Contoh: pelatihan, program peningkatan kualitas.
  2. Biaya Penaksiran. Biaya yang dikaitkan dengan proses evaluasi produk, proses, komponen, dan jasa. Contoh: biaya pengujian, laboraturium, dan pemriksa.
  3. Kegagalan internal. Biaya yang diakibatkan oleh produksi komponen atau jasa yang rusak sebelum diantarkan ke pelanggan. Contoh: rework, scrap, dan waktu tunggu akibat mesin rusak
  4. Biaya eksternal. Biaya yang terjadi setelah pengiriman barang atau jasa yang cacat. Contoh: rework, barang yang dikembalikan, kewajiban, kehilangan kepercayaan, dan biaya pada masyarakat.

Etika dan Manajeman Kualitas

Bagi seorang manajer operasi, memberikan produk dan jasa yang sehat, aman, dan berkualitas kepada pelanggan adalah salah satu pekerjaan yang terpenting. Kurangnya proses desain dan produksi, pengembangan produk-produk berkualitas rendah tidak hanya mengakibatkan biaya produksi yeng lebih tinggi tetapi juga dapat menimbulkan kecelakaan, tuntutan hukum, dan bertambahnya peraturan pemerintah.

Jika sebuah perusahaan yakin telah memperkenalkan sebuah produk yang layak dipertanyakan, maka tindakan tanggung jawab harus didasari oleh perbuatan etis. Sebuah perusahaan manufaktur harus menerima tangggung jawab untuk setiap produk berkualitas rendah atau produk-produk yang terkontaminasi yang mereka pasarkan kepada masyarakat. Dalam hal etika, setiap perusahaan harus mengembangkan nilai inti yang menjadi panduan sehari-hari untuk semua orang.

B. Standar Kualitas Internasional

ISO 9000

ISO 9000 adalah kumpulan standar untuk sistem manajemen mutu (SMM). ISO 9000 dirumuskan oleh TC 176 ISO , yaitu  organisasi internasional di bidang standardisasi. ISO 9000 pertama kali dikeluarkan pada tahun 1987 oleh  International Organization for Standardization Technical Committee (ISO/TC) 176. ISO/TC inilah yang bertanggungjawab untuk standar-standar sistem manajemen mutu. ISO/TC 176 menetapkan siklus peninjauan ulang setiap lima tahun, guna menjamin bahwa standar-standar ISO 9000 akan menjadi up to date dan relevan untuk organisasi.

Untuk memiliki sertifikat ISO 9000, suatu organisasi harus melalui proses selama 9 hingga 18 bulan yang mencakup dokumentasi prosedur kualitas, penilaian lapangan, dan serangkaian audit yang terus berjalan terhadap produk atau jasa yang dihasilkannya.

ISO 14000

ISO 14000 merupakan standar manajemen lingkungan yang mengandung lima elemen pokok: manajemen lingkungan, audit, evaluasi kinerja, pelabelan, dan penilaian siklus hidup.

C. Total  Quality Management (TQM)

Total Quality Management (TQM) mengacu pada penekanan kualitas yang meliputi organisasi keseluruhan, mulai dari pemasok hingga pelanggan. TQM menekankan komitmen manajemen untuk mendapatkan arahan perusahaan yang ingin terus meraih keunggulan dalam semua aspek produk dan jasa penting bagi pelanggan. Ada beberapa elemen bahwa sesuatu dikatakan berkualitas,  yaitu

  1. Kualitas meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.
  2. Kualitas mencakup produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan.
  3. Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah (apa yang dianggap berkualitas saat ini mungkin dianggap kurang berkualitas pada saat yang lain).
  4. Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.

Tujuh konsep program TQM yang efektif yaitu perbaikan berkesinambungan, Six Sigma, pemberdayaan pekerja, benchmarking, just-in-time (JIT), konsep Taguchi, dan pengetahuan perangkat TQM

a. Perbaikan Berkesinambungan

TQM membutuhkan perbaikan berkesinambungan yang tidak pernah berhenti yang mencakup orang, peralatan, pemasok, bahan, dan prosedur. Walter Shewhart, pelopor manajemen kualitas, mengembangkan sebuah model lingkaran yang dikenal sebagai PDCA (plan, do, check, act) yang menurutnya adalah suatu perbaikan berkesinambungan versinya sendiri.

b. Six Sigma

Six sigma adalah program untuk menghemat waktu, meningkatkan kualitas, dan menurunkan biaya. Six sigma juga merupakan sebuah sistem yang menyeluruh yaitu suatu strategi karena berfokus pada kepuasan pelanggan total, disiplin karena mengikuti six sigma improvement model formal, dan sekumpulan perangkat (lembar perangkat, diagram sebab-akibat, diagram pareto, diagram alir, histogram, dan statistical process control/SPC) untuk memperoleh dan mempertahankan kesuksesan dalam bisnis.

Metodologi Six Sigma

Untuk melakukan peningkatan terus menerus menuju target Six Sigma dibutuhkan suatu pendekatan yang sistematis, berdasarkan ilmu pengetahuan dan fakta (systematic, scientific and fact based)dengan menggunakan peralatan, pelatihan dan pengukuran sehingga ekspektasi dan kebutuhan pelanggan dapat terpenuhi (Simon, 2005). Saat ini terdapat dua pendekatan yang biasa digunakan dalam Six Sigma, yaitu :

1. DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve and Control)

Metodologi DMAIC digunakan saat sudah terdapat produk atau proses di perusahaan, namun belum dapat mencapai spesifikasi yang ditentukan oleh pelanggan.

  1. Define, menentukan tujuan proyek dan ekspektasi pelanggan.
  2. Measure, mengukur proses untuk dapat menentukan kinerja sekarang atau sebelum mengalami perbaikan.
  3. Analyze, menganalisa dan menentukan akar permasalahan dari suatu cacat atau kegagalan.
  4. Improve, memperbaiki proses menghilangkan atau mengurangi jumlah cacat atauu kegagalan.
  5. Control, mengawasi kinerja proses yang akan datang setelah mengalamai perbaikan.

2. DMADV (Define, Measure, Analyze, Design and Verify)

Metodologi DMADV dapat digunakan pada tempat / perusahaan yang belum terdapat produk maupun proses atau pada perusahaan yang sudah memiliki produk maupun proses dan sudah dilakukan optimisasi (menggunakan DMAIC ataupun metode yang lain) namun tetap saja tidak bisa mencapai level spesifikasi yang ditetapkan berdasarkan pelanggan atau sigma level.

  1. Define, menentukan tujuan proyek
  2. Measure, mengukur dan memutuskan spesifikasi dan kebutuhan pelanggan.
  3. Analyze, menganalisa beberapa proses pilihan yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
  4. Design, merancang proses secara terperinci yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
  5. Verify, menguji kemampuan dan kekuatan hasil rancangan agar sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

c. Pemberdayaan Pekerja (Employee Empowement)

Pemberdayaan pekerja adalah memperbesar cakupan pekerjaan pekerja sehingga tanggung jawab dan wewenang yang ditambahkan akan menjadi bagian dari tingkatan serendah mungkin dalam organisasi.

d. Benchmarking

Benchmarking meliputi pemilihan standar produk, jasa, biaya atau kebiasaan yang mewakili suatu kinerja terbaik dari proses atau aktivitas.

e. Just in Time (JIT)

Konsep JIT diadakan untuk perbaikan berkesinambungan dan penyelesaikan masalah. Dalam konsep JIT, barang diproduksi dan diantarkan saat mereka dibutuhkan (saat ada permintaan). JIT berkaitan dengan kualitas dalam tiga hal:

  1. JIT memangkas biaya kualitas.
  2. JIT meningkatkan kualitas.
  3. Kualitas yang lebih baik berarti persediaan yang lebih sedikit, serta sistem JIT yang lebih baik dan mudah digunakan.

f. Konsep Taguchi

Genichi Taguchi memberikan tiga konsep yang bertujuan memperbaiki kualitas produk dan proses, yaitu ketangguhan kualitas (quality robustness), fungsi kerugian kualitas (quality loss function-QLF) dan kualitas berorientasi sasaran (target-oriented quality)

D. Perangkat TQM

  1. Lembar periksa, adalah suatu formulir yang dirancang untuk mencatat data. Lembar periksa membantu analisis menentukan fakta atau pola yang mungkin dapat membantu analisis selanjutnya.
  2. Diagram sebar adalah menunjukkan hubungan antara dua pengukuran.
  3. Diagram sebab-akibat (diagram Ishikawa/diagram tulang ikan), adalah sebuah teknik skematik yang digunakan untuk mengetahui letak-letak masalah kualitas yang mungkin.
  4. Diagam pareto adalah sebuah metode untuk mengelola kesalahan, masalah, atau cacat guna membantu memusatkan perhatian untuk upaya penyelesaian masalahnya.
  5. Diagram alir adalah diagaram kotak yang secara grafis menggambarkan sebuah proses atau sistem.

E. Peranan Inspeksi 

Inspeksi ialah suatu cara memastikan operasi telah mencapai kualitas yang diharapkan. Inspeksi meliputi pengukuran, perasaan, perabaan, penimbangan, atau pemeriksaan produk dengan tujuan menemukan proses yang buruk sesegera mungkn. Perlu diingat, inspeksi tidak memperbaiki kekurangan dalam sistem atau atau cacat pada produk atau mengubah suatu produk dan meningkatkan nlainya. Inspeksi hanya berfungsi menemukan kekurangan atau cacat.

F. Contoh Studi Kasus

Kasus Recall Toyota

Diberitakan detikOto pada hari Jumat 12/02/2010 Toyota menarik lebih dari 8,5 juta Camry. Efek domino pun dirasakan Toyota, mulai menurunnya penjualan hingga 20.000 pada bulan Januari tahun ini karena penurunan pada pekan terakhir. Harga jual mobil Toyota di pasar Amerika dan Eropa pun terus melorot, seperti dilaporkan oleh Business Week. Harga sahamnya pun ikut turun sampai 8% di NYSE pada awal Februari 2010.

Beberapa pihak menduga adanya perang dagang dalam kompetisi dagang otomotif internasional di balik kejadian tersebut. Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhunata, menyatakan adanya indikasi ke arah perang dagang tersebut, seperti diungkapkannya kepada Vivanews pada awal Februari. Menurutnya, salah satu kemungkinan motifnya adalah untuk mengurangi kepercayaan pasar terhadap produk mobil dari prinsipal Jepang. Sinyalemen ini bukan tanpa alasan. Di Amerika tudingan ke arah perang dagang pun cukup kencang, salah satunya disebabkan adanya tekanan cukup keras dari pemerintah yang dalam hal ini dimotori oleh Ray LaHood (U.S. Transportation Secretary). Ray LaHood sempat membuat pernyataan bahwa pemerintah AS sangat serius dalam melakukan investigasi dari kasus recall Toyota tersebut. Apalagi menurut beberapa sumber, pemasok pedal gas yang menjadi sumber masalah Toyota adalah dari produsen Amerika Serikat. Dari diskusi di hillbuzz.org, bahkan ada tudingan bahwa kejadian tersebut terkait dengan adanya rencana Toyota beberapa waktu sebelumnya untuk menutup fasilitas produksinya di California.

Tetapi Toyota tidak tinggal diam, Akio Toyoda, CEO Toyota yang juga cucu pendiri Toyota, menyatakan bahwa kejadian tersebut bukan merupakan indikasi adanya penurunan komitmen Toyota terhadap kualitas. Toyota Production System memang saat ini dikenal sebagai salah satu manajemen kualitas yang terdepan di dunia. Salah satu prinsipnya adalah menghentikan proses produksi dan memperbaiki, bila terdapat kesalahan atau yang dikenal dengan prinsip “Jidoka”. Hal ini juga tampak dalam bagaimana Toyota menyikapi kasus ini seperti uraian di atas. Toyota juga menunda produksi dua varian mobil hybridnya menyusul mencuatnya kasus recall tersebut.

Toyota adalah perusahaan Otomotif terkemuka di dunia, ketika kasus recall Toyota terjadi banyak masyarakat yang berfikir bahwa terjadi penurunan kualitas produk Toyota. Namun ternyata keputusan recall tersebut merupakan wujud pelaksanaan Total Quality Management yang dilakukan oleh pihak Toyota. Tindakan recall tersebut bertujuan untuk mengurangi kecacatan,  meningkatkan kualitas, menurunkan biaya serta meningkatkan kepuasan pelanggan yang merupakan bagian dari Six Sigma yang terdapat dalam TQM. Selain itu, dalam kasus ini Toyota tidak hanya merecall produknya, tetapi juga menunda produksi dua varian mobil hybridnya yang berarti Toyota mengurangi persediaan karena kualitas yang lebih baik berarti persediaan yang lebih sedikit, hal ini sesuai dengan point ketida dalam Just in Time.

Seperti yang kita ketahui, fungsi kerugian kualitas mengidentifikasikan semua biaya yang berkaitan dengan kualitas rendah dan menunjukkan bagaimana biaya ini meningkat jika kualitas produk semakin jauh dari keinginan pelanggan. Dalam hal ini berarti pihak Toyota harus mengeluarkan biaya untuk melakukan recall dan ganti rugi, yang juga berarti bahwa Toyota telah melaksanakan fungsi kerugian. Kemudian Toyota juga menerapkan kualitas berorientasi sasaran dengan melakukan perbaikan terus-menerus untuk membuat kualitas produk tepat sesuai dengan sasaran. Meskipun kasus ini terjadi, Toyota tetap melaksanakan TQM dalam kegiatan produksinya.

Daftar Pustaka

Heizer, Jay dan Render, Barry. 2006. Manajemen Operasi. Jakarta: Salemba Empat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s