Resensi Buku Muhasabah Keuangan Syariah

Posted: March 10, 2013 in Agama Islam

RESENSI BUKU MUHASABAH KEUANGAN SYARIAH

UNJ

MUHAMMAD ARIEF FAUZI

8335123535

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

S1 AKUNTANSI REG B 2012

AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2012

Muhasabah-Keuangan-Syariah

Judul Buku         : Muhasabah Keuangan Syariah

Pengarang         : Prof. Dr. Muhammad Nizarul Alim

Penerbit            : AQWAM

Kota Terbit        : Solo

Tahun Terbit     : 2011

Cetakan            : I (Pertama)

Tebal                : 184 Halaman

Buku ini ditulis oleh Prof. Dr. H. Muhammad Nizarul Alim, S.E, M.Si., Ak. Beliau adalah guru besar akuntansi syariah dan akuntansi keperilakuan di Universitas Trunojoyo, Madura. Beliau lahir di Kediri 23 Juli 1969 dan menempuh pendidikan S-1 Ekonomi-Akuntansi di Universitas Brawijaya (1994), S-2 Ekonomi-Akuntansi di Universitas Gadjah Mada (1998) dan S-3 Ilmu Ekonomi-Akuntansi di Universitas Airlangga (2002).

Selain menjadi dosen di program S1 dan S2 Universitas Trunojoyo, beliau juga pernah mengajar di Pascasarjana Universitas Brawijaya, Universitas Mulawarman, Universitas Widyagama, STIESIA Surabaya, STIE Perbanas Surabaya dan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.

Buku Muhasabah Keuangan Syariah merupakan buku ketiga penulis di samping dua buku lainnya yang berjudul Pembiayaan Syariah Untuk Usaha Mikro dan Kecil Disertai Studi Kasus dan Solusi serta Sistem Akuntansi Wakaf.

Muamalah secara luas dapat diasosiasikan dengan aktivitas manusia dengan manusia lain (hablum minan naas) tidak hanya aktivitas ekonomi, tetapi juga aktivitas lain, seperti pergaulan, politik, keluarga dan manusia. Namun, istilah muamalah secara umum telah diidentikkan dengan aktivitas usaha atau bisnis. Dalam menjalankan aktivitas ekonomi hendaknya setiap muslim baik individu maupun jamaah tidak meninggalkan kewajiban fii sabilillah.

Penjelasan muamalah di dalam Al-Qur’an, hadis, dan fikih menggunakan istilah-istilah seperti tijarah, al-bai’, dan iqtishadi. Dalam An-Nuur 37 menempatkan tijarah dan jual beli merupakan aktivitas bisnis yang berbeda. Tijarah dalam beberapa terjemahan Al-Qur’an diartikan dengan perniagaan dan al-bai’ adalah jual beli. Iqtishadi memiliki makna ekonomi secara luas baik makro maupun mikro seperti ilmu ekonomi, sistem ekonomi, dan ekonomi negara .

Muamalah hukum asalnya adalah mubah. Adapun yang menjadikan haram dalam muamalah antara lain batil, zalim dengan berbuat curang, tidak adil, ada unsur riba, ada unsur gharar (mengandung ketidakjelasan), ada unsur haram dalam barang atau jasa, dan ada unsur judi.

Infrastruktur ekonomi syariah di Indonesia telah berkembang baik dari aspek regulasi seperti fatwa, UU, PP, SK dan peraturan lain. Perkembangan infrastruktur tersebut membawa dampak positif kebutuhan SDM sekaligus tantangan kualitas SDM. Kualitas SDM juga berpengaruh terhadap konsistensi implementasi dengan prinsip-prinsip syariah serta kredibilitas lembaga keuangan syariah di Indonesia. Seharusnya infranstruktur keuangan syariah bukan sekadar ‘oase’ tetapi sudah menjadi ‘zam-zam’ yang memiliki nilai ‘gizi tinggi’ untuk pertumbuhan sekaligus menyembuhkan berbagai penyakit bisnis syariah.

Berkembangnya infrastruktur keuangan syariah di Indonesia diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan dan market share mencapai lima persen dalam lima tahun ke depan. Tetapi jika dilihat akselerasinya tampaknya akan relatif sulit pencapaian tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa keberadaan infrastruktur keuangan syariah belum berpengaruh signifikan terhadap komitmen Muslim dan pelaku bisnis Muslim dalam berinvestasi keuangan syariah.

Ada beberapa determinan komitmen investasi syariah di antaranya share aset Muslim, motif ekonomis, layanan akses, perilaku pasar, struktur, dan kultur. Terkait dengan kultur keuangan syariah, maka kesesuaian aplikasi dengan konsepsi akan berdampak terhadap persepsi dan persepsi tersebut menjadi determinan yang tidak bisa diabaikan.

Kesesuaian antara konsepsi dan aplikasi merupakan determinan terhadap daya tarik dan kepercayaan masyarakat terhadap pembiayaan syariah. Analisis menunjukkan bahwa produk-produk pembiayaan syariah berpotensi mengalami deviasi dalam aplikasi dan persepsi (mispersepsi) baik dikarenakan aspek SDM perbankan syariah maupun pemahaman, kultur, dan etos usaha masyarakat yang belum kondusif diterapkannya pembiayaan syariah. Oleh karena itu, muhasabah terhadap praktik-praktik yang terkait dengan keuangan syariah sangat dibutuhkan sehingga perbaikan secara kontinyu (continuous improvement) dapat dilakukan.

Di samping itu juga, kesenjangan ekspektasi masih terjadi antara nasabah pembiayaan syariah dengan bank syariah dalam hal pembiayaan musyarakah syariah dan mudharabah serta  dalam penerapan mudharabah dan al qardh. Nasabah merasakan dan mengalami bahwa menggunakan pembiayaan syariah tidak berbeda dengan bank konvensional. Aspek struktur seperti tidak adanya DPS (Dewan Pengawas Syariah) di cabang sehingga peran dan fungsinya kurang optimal serta kultur nasabah yang terbiasa dengan sistem konvensional diindikasikan bagian dari determinan adanya kesenjangan ekspektasi.

Padahal Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institution (AAOIFI) telah menegaskan bahwa peran DPS tidak hanya berhenti pada aspek fatwa terhadap instrumen sukuk (atau produk keuangan syariah lain). Tetapi harus senantiasa mengawasi kontrak-kontrak, dokumen/bukti terkait dan operasi pada setiap tahapnya.

Krisis global 2008 memberikan fakta bahwa ketika BI menaikkan tingkat suku bunga SBI dampaknya tidak hanya kenaikan suku bunga bank konvensional, tetapi juga tingkat marjin bank syariah. Dua studi kasus praktik pembiayaan syariah yang telah diobservasi penulis menjadi fakta bahwa implementasi pembiayaan syariah (musyarakah) masih ditemukan praktik yang tidak sesuai dengan standar akuntansi perbankan syariah, standar akuntansi penyajian laporan keuangan syariah, serta standar akuntansi musyarakah.

Bahkan juga diindikasikan masih ada unsur gharar yang bertentangan dengan syariah. Masalah SDM telah menjadi tantangan melekat bagi perkembangan lembaga keuangan syariah tidak hanya bank syariah, tetapi juga asuransi syariah, lembaga pembiayaan syariah dan reksadana syariah.

Bagian selanjutnya di dalam buku ini menjelaskan tentang surat berharga. Surat berharga telah menjadi instrumen yang penting dalam perekonomian modern dan telah menjadi sarana investasi yang kompetitif. Surat berharga juga menjadi aspek penting yang patut dikaji dan diimplementasikan menurut syariah. Atas dasar itu, terbitlah fatwa-fatwa yang menjadi landasan implementasi dan diterapkannya surat berharga dengan prinsip syariah. Akan tetapi, di antara kriteria surat berharga syariah masih terdapat kriteria yang meragukan secara syariah karena masih ada toleransi yang masuk kategori riba. Selain itu, sistem ekonomi makrao yang belum islami akan menjadikan industri yang pada dasarnya kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan syariah menjadi syubhat.

Buku ini juga membahas tentang organisasi pengelola ZIS (Zakat Infaq dan Shadaqah). Di Indonesia perkembangan dan infrastruktur OPZIS telah mendapatkan perhatian dari pemerintah melalui tiga perangkat peraturan, di antaranya UU tentang zakat, PP, serta  UU pajak yang mengakomodasi zakat menjadi pengurang penghasilan atau pendapatan kena pajak. Terbentuknya BAZNAS sebagai amanah UU zakat serta FoZ (Forum Zakat) juga memperkuat infrastruktur pengelolaan zakat di Indonesia. Selain Depag juga telah memiliki standar penilaian bagi akreditasi BAZ maupun LAZ menjadi LAZNAS.

Kelebihan buku ini adalah penulis menggunakan kalimat-kalimat sederhana yang mudah dimengerti dan dipahami oleh pembaca. Di bagian awal buku ini ditulis banyak sekali referensi yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits yang menjelaskan tentang keuangan syariah. Sebagai seorang muslim buku ini sangatlah bermanfaat karena di dalamnya dijelaskan tentang macam-macam lembaga keuangan syariah yang akan menjadi pedoman kita untuk berinvestasi secara syariah yang sesuai dengan Al Qur’an dan Hadits. Dengan membaca buku ini juga kita akan mengetahui tentang keuangan syariah dan perkembangannya di Indonesia. Buku ini juga dapat memberikan alternatif solusi dan inovasi yang dapat menjadi referensi bagi pihak-pihak pemangku kepentingan.

Selain mempunyai kelebihan, buku ini juga mempunyai kekurangan. Buku ini disertai dengan beberapa contoh studi kasus dengan perhitungan yang sedikit rumit. Pembaca mungkin kurang mengerti tentang studi kasus tersebut karena tidak mempunyai latar belakang pendidikan di bidang akuntansi. Buku ini juga dikhususkan kepada pembaca muslim karena di dalamnya dijelaskan tentang keuangan syariah yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits sehingga pembaca non muslim mungkin tidak akan mau membacanya.

Buku ini sangatlah bermanfaat bagi pembaca agar dapat mengetahui tentang infrastruktur, perkembangan, dan akselerasi keuangan syariah di Indonesia khususnya masyarakat muslim yang ingin menyimpan dana mereka di lembaga keuangan syariah yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits. Dengan adanya lembaga keuangan syariah, kita akan berpikir ulang untuk menanamkan modal di lembaga keuangan konvensional karena di lembaga keuangan konvensional masih terdapat unsur riba yang hukumnya haram untuk muslim. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, lembaga keuangan syariah sangatlah berperan penting demi kemaslahatan umat. Jadi, muhasabah terhadap praktik-praktik yang terkait dengan keuangan syariah sangat dibutuhkan sehingga perbaikan secara kontinyu (continuous improvement) dapat dilakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s